Dari Akar ke Podium: Kisah Taru Prabawa Merawat Langka, Meraih Juara

Afakhrul Masub Bakhtiar, Dosen PGSD Universitas Muhammadiyah Gresik

Inovasi367 Dilihat

PSI.UMG– Di tengah riuhnya Seminar Pohon Langka Indonesia di Universitas Sanata Dharma, Kamis (20/11/2025), kabar membanggakan datang dari Jawa Timur. Tim Taru Prabawa dari Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) berhasil meraih Juara 2 Region Jawa dalam Program PELUK (Pendataan Lestari untuk Konservasi Pohon Langka), sebuah kompetisi bergengsi tingkat nasional yang diinisiasi Forum Pohon Langka Indonesia, didukung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Yang membuat pencapaian ini istimewa bukan sekadar gelar juara, melainkan kisah dibalik timnya. Taru Prabawa dikomandoi oleh Afakhrul Masub Bakhtiar, dosen PGSD UMG, berkolaborasi dengan Ahmad Feditya Baihaqi, mahasiswa Agribisnis sekaligus keponakannya. Duet paman dan keponakan ini bukan hanya lintas generasi, tetapi juga lintas makna: sebuah silaturahmi keluarga yang menjelma menjadi gerakan ekologis. Mereka membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus lahir dari laboratorium besar, melainkan bisa tumbuh dari lingkaran paling sederhana, keluarga. Dari akar silaturahmi, lahirlah semangat merawat bumi.

Misi Menyelamatkan Warisan Hayati Nusantara
Program PELUK 2025 bukan sekadar kompetisi akademis. Lebih dari itu, ia adalah panggilan nurani untuk mendata dan memetakan keberadaan pohon-pohon langka Indonesia yang statusnya kian mengkhawatirkan. Para peserta ditantang mengidentifikasi spesies pohon yang masuk kategori rentan (Vulnerable/VU), terancam (Endangered/EN), hingga kritis (Critically Endangered/CR) menurut klasifikasi IUCN. “Setiap data yang terkumpul adalah doa panjang untuk masa depan ekosistem Indonesia,” ujar Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, Dewan Pakar Forum Pohon Langka Indonesia, dalam sambutannya.

Metodologi Holistik: Dari Hutan Adat ke Pekarangan
Tim Taru Prabawa melakukan pendataan menyeluruh di berbagai ekosistem. Mereka tidak hanya menyisir taman nasional dan hutan lindung, tetapi juga menjangkau hutan adat, pekarangan rumahnya, hingga jalur hijau perkotaan. Pendekatan ini menegaskan bahwa pohon langka bukan sekadar entitas biologis, melainkan bagian dari lanskap sosial, budaya, dan spiritual. Di beberapa lokasi, tim menemukan spesies langka yang justru bertahan karena dirawat turun-temurun oleh masyarakat adat. “Kami belajar bahwa pohon bertahan bukan karena statusnya di IUCN, melainkan karena ikatan emosional dan spiritual masyarakat,” jelas Afakhrul.

Warisan Keluarga, Filosofi Kehidupan
Afakhrul menuturkan bahwa kecintaannya pada alam adalah warisan dari leluhurnya. “Nenek saya selalu berkata: Pohon adalah naskah kehidupan yang ditulis alam. Setiap batang adalah kalimat tentang keteguhan, setiap daun yang gugur adalah catatan siklus kehidupan, dan setiap akar adalah kisah panjang tentang asal-usul kita,” semua atas Kehendak-Nya: kenangnya.
Nilai itu ia wariskan kepada Ahmad Feditya, sang keponakan. Kolaborasi keduanya dalam Tim Taru Prabawa menjadi bukti bahwa konservasi bisa ditransformasikan menjadi tradisi keluarga yang produktif.
Filosofi Juara: Menanam, Merawat, Menuai
Meski hanya meraih Juara 2 Region Jawa, pencapaian Taru Prabawa tetap bermakna besar. Data yang mereka kumpulkan menjadi bagian dari konservasi nasional, sekaligus pengingat bahwa pohon langka adalah penyangga kehidupan.
Afakhrul merangkum makna kemenangan ini dengan kalimat sederhana namun mendalam:

“Pohon langka adalah naskah kehidupan. Satu generasi menanam, berikutnya merawat, dan generasi mendatang menuai keberlanjutan.”

.

By : Afakhrul Masub Bakhtiar

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *