Riset Tidak Boleh Berhenti di Laboratorium, Harus Menjadi Produk yang Bermanfaat bagi Umat

Inovasi109 Dilihat

PSI.UMG – Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan publikasi ilmiah. Hasil penelitian harus mampu dihilirisasikan menjadi produk, teknologi, maupun layanan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pesan itulah yang disampaikan  Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., Guru Besar Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat menjadi narasumber utama dalam Seminar Nasional, Pameran Inovasi, dan Anugerah Inovator 2026 yang diselenggarakan oleh Pusat Studi dan Inovasi Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Gresik, Rabu (10/6/2026).

Seminar yang dimoderatori oleh Dr. Ernawati, S.Kep., Ns., M.Kes. tersebut mengangkat tema besar “Hilirisasi Karya Menuju Kampus Berdampak”, sejalan dengan arah kebijakan pendidikan tinggi yang menempatkan inovasi sebagai motor penggerak pembangunan nasional.

Dalam paparannya, Prof. Elfi menegaskan bahwa sebuah penelitian belum dapat dikatakan berhasil apabila hanya tersimpan dalam laporan penelitian atau dipublikasikan di jurnal ilmiah. Menurutnya, keberhasilan sejati riset adalah ketika hasil penelitian mampu menjawab persoalan masyarakat, dimanfaatkan oleh dunia industri, memberikan nilai ekonomi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Ide harus berkembang menjadi inovasi, inovasi harus menjadi produk, kemudian produk harus sampai kepada masyarakat melalui proses hilirisasi. Di situlah penelitian benar-benar memberikan dampak,” tegasnya.

Sebagai akademisi yang telah menghasilkan belasan paten dan hak kekayaan intelektual (HKI), Prof. Elfi membagikan pengalaman panjangnya dalam mengembangkan inovasi berbasis sumber daya hayati Indonesia, khususnya pigmen alami dari bunga, buah, dan tanaman lokal yang dimanfaatkan sebagai pewarna alami, pangan fungsional, hingga produk kesehatan.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia yang masih menyimpan peluang inovasi yang luar biasa. Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya diolah menjadi produk unggulan yang memiliki nilai tambah ekonomi.

“Indonesia memiliki ratusan jenis sumber pangan lokal, rempah-rempah, buah-buahan, sayuran, hingga tanaman bioaktif. Semua itu merupakan sumber inspirasi inovasi. Tantangan kita bukan lagi mencari bahan baku, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi produk yang unik, berkualitas, aman, halal, serta memiliki daya saing global,” jelasnya.

Inovasi Berawal dari Kepekaan terhadap Masalah

Di hadapan dosen, peneliti, dan mahasiswa, Prof. Elfi mengajak generasi muda untuk mengubah cara pandang terhadap penelitian. Menurutnya, inovasi lahir bukan karena fasilitas yang mewah, melainkan dari kepekaan melihat persoalan di sekitar.

Ia menjelaskan bahwa inovator harus memiliki keberanian untuk berpikir kreatif, mencari solusi atas berbagai tantangan masyarakat, kemudian mengembangkannya menjadi karya yang memiliki nilai manfaat.

“Setiap masalah adalah peluang inovasi. Jangan takut memulai dari sesuatu yang sederhana. Banyak karya besar lahir dari persoalan kecil yang diselesaikan secara kreatif dan konsisten,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun karakter  Ulul Albab, yakni ilmuwan yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan spiritualitas sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 191. Menurutnya, ilmu pengetahuan dan keimanan tidak dapat dipisahkan dalam proses menghasilkan inovasi yang membawa kemaslahatan.

Pentingnya Hilirisasi dan Perlindungan HKI

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Elfi juga mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap hasil karya melalui Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan paten. Baginya, paten bukan sekadar dokumen administratif, tetapi bentuk penghargaan atas kreativitas dan perlindungan terhadap karya anak bangsa.

Ia mendorong para dosen dan mahasiswa agar tidak berhenti setelah menemukan sebuah inovasi, melainkan aktif mendiseminasikan hasil penelitiannya melalui buku, jurnal, pameran, pelatihan, media sosial, hingga kerja sama dengan dunia industri.

“Hasil penelitian harus dipublikasikan, dipatenkan, dipamerkan, kemudian dikolaborasikan dengan dunia usaha sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi dan membuka peluang usaha baru,” katanya.

Menurut Prof. Elfi, hilirisasi penelitian merupakan bagian penting dalam membangun kampus yang berdampak. Perguruan tinggi harus hadir sebagai pusat solusi yang mampu mendampingi pemerintah, UMKM, dan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan melalui inovasi berbasis ilmu pengetahuan.

Membangun Budaya Inovasi di Kalangan Mahasiswa

Tidak hanya menyampaikan pengalaman risetnya, Prof. Elfi juga memberikan motivasi kepada mahasiswa agar berani menghasilkan karya inovatif sejak masih berada di bangku kuliah.

Ia menilai mahasiswa merupakan agen perubahan yang memiliki kreativitas tinggi dan keberanian mencoba hal-hal baru. Oleh karena itu, budaya penelitian harus dibangun melalui kolaborasi antara dosen dan mahasiswa agar lahir inovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi jadilah pencipta teknologi. Jadikan penelitian sebagai jalan untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Ketika ilmu digunakan untuk menghadirkan solusi, di situlah penelitian memiliki nilai ibadah sekaligus nilai peradaban,” pesannya.

Prof. Elfi berharap perguruan tinggi Muhammadiyah terus menjadi pelopor dalam melahirkan inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui hilirisasi hasil penelitian, pengembangan produk halal, penguatan ketahanan pangan, serta pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal.

Sementara itu, moderator seminar, Dr. Ernawati, S.Kep., Ns., M.Kes., mengatakan bahwa materi yang disampaikan Prof. Elfi memberikan perspektif baru kepada peserta mengenai pentingnya membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan sebuah penelitian tidak hanya diukur dari banyaknya publikasi, tetapi juga dari sejauh mana hasil penelitian tersebut dapat diimplementasikan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian Seminar Nasional, Pameran Inovasi, dan Anugerah Inovator 2026, yang bertujuan memperkuat budaya riset, inovasi, dan hilirisasi hasil penelitian di lingkungan perguruan tinggi sebagai kontribusi nyata menuju terwujudnya Kampus Berdampak

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *