PSI.UMG – Kemajuan teknologi digital membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam pola asuh anak. Digitalisasi juga memberikan banyak kemudahan dan peluang belajar bagi anak-anak. Ada banyak ragam aplikasi edukatif, video pembelajaran interaktif, serta komunikasi tanpa batas menjadi bagian dari keseharian generasi muda. Namun, kemajuan ini menghadirkan tantangan serius, salah satunya adalah meningkatnya kasus speech delay atau keterlambatan bicara pada anak usia dini.
Fenomena ini menjadi perhatian banyak orang tua dan tenaga kesehatan pada saat ini. Berdasarkan berbagai penelitian, kasus speech delay menunjukkan tren kenaikan evidance based yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Studi riset di Uni Emirat Arab terhadap anak usia 1–4 tahun menemukan bahwa sekitar 25,5% anak mengalami keterlambatan bicara, dengan prevalensi tertinggi pada usia 1 tahun, yaitu mencapai 44,9% dari kelompok usia tersebut. Di Indonesia, hasil screening perkembangan bahasa di Denpasar menunjukkan angka keterlambatan bahasa sebesar 5–8% pada anak usia 2–4,5 tahun, dan bahkan mencapai 55,1% pada usia 25–36 bulan. Data ini menegaskan fase awal kehidupan terutama usia di bawah tiga tahun karena merupakan periode paling rentan terhadap gangguan perkembangan bahasa.
Salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan meningkatnya kasus ini adalah paparan layar atau screen time yang berlebihan. Anak-anak yang sejak dini terlalu lama menatap layar gawai, baik untuk menonton video, bermain game, maupun sekadar menonton animasi, berisiko mengalami gangguan pada perkembangan area otak yang berhubungan dengan bahasa, interaksi sosial, dan konsentrasi. Sebuah penelitian di Kanada menemukan bahwa anak berusia 18 bulan yang menggunakan perangkat media digital memiliki rata-rata 27,8 menit waktu layar per hari, dan setiap peningkatan durasi penggunaan berhubungan dengan peningkatan risiko speech delay sebesar 1,49 kali lipat.
Sementara itu, studi di Indonesia terhadap anak usia 3–5 tahun juga menunjukkan bahwa penggunaan gadget lebih dari 1 jam per hari berdampak pada hasil screening perkembangan bahasa yang “ragu-ragu” atau tidak optimal. Walaupun tampak singkat tetapi durasi penggunaan gawai menunjukkan bisa memengaruhi kualitas stimulasi bahasa anak apabila tidak diimbangi dengan interaksi sosial langsung.
Padahal, proses belajar bicara pada anak sangat bergantung pada interaksi manusiawi anak belajar melalui tatapan mata, ekspresi wajah, intonasi suara, dan respon emosi dari orang-orang di sekitarnya. Ketika anak lebih banyak berinteraksi dengan layar yang bersifat satu arah, kemampuan komunikasi ini tidak terstimulasi secara optimal. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan anak kesulitan memahami konteks percakapan, lambat merespons, bahkan kehilangan ketertarikan untuk berkomunikasi.
Menariknya, indikasi peningkatan kasus speech delay juga mulai tampak di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Gresik. Berdasarkan data internal dari salah satu rumah sakit tumbuh kembang di wilayah tersebut, selama periode April–Juli 2021 tercatat 94 anak datang dengan keluhan speech delay, di mana sebagian besar (sekitar 43 anak) tidak memiliki penyakit penyerta dan mayoritas berada pada usia prasekolah. Meski data ini belum mewakili seluruh populasi Gresik, angka tersebut memberikan gambaran bahwa fenomena keterlambatan bicara juga mulai banyak ditemukan di tingkat lokal. Hal ini menunjukkan perlunya perhatian lebih dari tenaga kesehatan, pendidik, dan orang tua terhadap pola asuh serta kebiasaan digital anak di daerah.
Ironisnya, di era digitalisasi seperti sekarang, penggunaan gawai justru menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Orang tua bekerja menggunakan perangkat digital, sekolah beralih ke sistem daring, bahkan aktivitas bermain anak pun sering melibatkan teknologi. Akibatnya, sulit bagi banyak keluarga untuk benar-benar membatasi penggunaan layar, terutama ketika gawai dianggap sebagai “penolong” agar anak tenang saat orang tua sibuk.
Namun, persoalan ini tidak dapat hanya disalahkan pada teknologi. Lebih tepat jika kita menyebutnya sebagai konsekuensi dari ketidakseimbangan dalam pemanfaatan teknologi. Gawai bukanlah musuh perkembangan anak jika digunakan secara bijak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketika penggunaan media digital disertai pendampingan orang tua seperti menonton bersama, berdialog tentang isi tayangan, dan membatasi durasi maka dampak negatifnya dapat diminimalkan. Kunci utamanya adalah keterlibatan aktif orang tua dalam interaksi sehari-hari.
Selain itu, kesadaran tentang pentingnya stimulasi bahasa perlu terus ditingkatkan. Orang tua perlu melibatkan anak dalam percakapan sehari-hari, membaca buku bersama, bernyanyi, dan bermain peran dalam bentuk aktivitas sederhana namun sangat penting bagi perkembangan bahasa. Pemerintah dan lembaga pendidikan pun diharapkan aktif melakukan edukasi publik mengenai batas aman screen time sesuai usia, serta memberikan pelatihan parenting digital untuk keluarga muda.
Akhirnya, dilema antara kemajuan digital dan kesehatan perkembangan anak memang nyata adanya. Namun, bukan berarti kita harus menolak teknologi. Tantangannya adalah bagaimana kita menempatkan teknologi sebagai alat bantu, bukan pengganti interaksi manusia. Digitalisasi seharusnya menjadi sarana untuk memperkaya pengalaman belajar anak, bukan menjauhkan mereka dari dunia nyata.
Kita perlu mengingat kembali bahwa suara manusia pertama yang didengar anak melalui suara ibu, ayah, atau pengasuh adalah fondasi utama pembentukan bahasa dan emosi. Tidak ada aplikasi digital yang mampu menggantikan kehangatan komunikasi itu. Maka, menjaga keseimbangan antara teknologi dan interaksi manusia adalah kunci agar generasi digital tumbuh bukan hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga sehat secara sosial dan emosional.
Penulis : Diah Fauzia Zuhroh











