PSI.UMG – Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong inovasi dan kualitas pendidikan di Indonesia. Melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMG menggelar 3rd UMGCINMATIC International Conference yang tahun ini mengangkat tema besar “Strengthening Teacher Education in The Era of AI.” Konferensi ini bekerja sama dengan Loei Provincial Education Office, Thailand, serta menghadirkan berbagai akademisi dan praktisi pendidikan dari dua negara. Acara bergengsi ini berlangsung pada 24 Oktober 2025, bertempat di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik, dan dihadiri oleh 250 peserta dari berbagai lembaga pendidikan.
Di era yang serba cepat dan berbasis teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, tak terkecuali dunia pendidikan. Proses belajar mengajar kini dituntut lebih adaptif, personal, dan kolaboratif. Di sinilah peran pendidik menjadi semakin krusial. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi juga fasilitator yang memanfaatkan teknologi cerdas untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas.
Melihat urgensi tersebut, Universitas Muhammadiyah Gresik menghadirkan konferensi sebagai wadah diskusi ilmiah dan pertukaran gagasan mengenai bagaimana institusi pendidikan, khususnya Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), dapat memperkuat kompetensi calon guru maupun guru aktif di tengah derasnya perkembangan AI.
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik, Prof. Dr. Khoirul Anwar, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa konferensi internasional ini menjadi momentum penting bagi UMG untuk memperluas jejaring kerja sama global.
“Di era AI, guru tidak lagi cukup hanya menguasai materi. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Konferensi ini adalah ruang untuk memperkaya wawasan, mengembangkan inovasi, dan memperkuat komitmen kita dalam memajukan pendidikan,” ujar Prof. Khoirul Anwar.
Sementara itu, konferensi semakin menggaung dengan kehadiran Keynote Speaker, Dr. Wanida Simpol, Supervisor of Loei Provincial Education Office dari Thailand. Dalam paparannya, Dr. Wanida mengangkat perspektif global mengenai perkembangan AI dalam pendidikan di kawasan Asia Tenggara. Ia menekankan bahwa keberadaan AI bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi memperkuat efektivitas pengajaran.
“Artificial intelligence dapat membantu guru mengidentifikasi kebutuhan siswa secara lebih akurat. Tetapi kehangatan, kreativitas, dan nilai-nilai moral tetap menjadi peran manusia yang tidak tergantikan,” jelasnya.
Selain keynote speaker, konferensi juga menghadirkan pembicara dari dua negara, antara lain: Ulfatul Ma’rifah, M.Pd, Dosen FKIP UMG., Somkid Kesda, Director of Nonghinwittayakom School, Thailand., Sergeant Dr. Mongkhon Sonnuan, Provincial Education Officer, Thailand
Para narasumber membagikan penelitian, pengalaman lapangan, hingga strategi implementasi AI dalam sistem pendidikan dasar hingga menengah. Keberagaman perspektif ini membuat diskusi berlangsung semakin kaya dan mendalam.
Salah satu poin menarik dari konferensi ini adalah penguatan kerja sama antara UMG dan Loei Provincial Education Office, Thailand. Kolaborasi ini tidak hanya mencakup kegiatan ilmiah, tetapi juga program pertukaran pendidikan, peningkatan profesional guru, serta eksplorasi implementasi teknologi AI dalam pembelajaran lintas negara. Melalui forum internasional ini, kedua negara berupaya untuk saling berbagi praktik terbaik dalam pendidikan, terutama dalam hal penguatan kompetensi guru menghadapi perubahan global.
Mr. Somkid Kesda, salah satu pembicara dari Thailand, menekankan pentingnya kemitraan internasional di bidang pendidikan.
“Pendidikan tidak boleh berjalan sendiri. Kita harus saling terhubung, berbagi pengetahuan, dan bekerja sama agar guru-guru kita siap menghadapi dunia yang terus berubah,” ujarnya.
Pembahasan mengenai AI sering kali memunculkan kekhawatiran, terutama terkait potensi teknologi menggantikan profesi manusia. Namun, para pembicara sepakat bahwa dalam konteks pendidikan, AI justru harus dilihat sebagai peluang.
Ulfatul Ma’rifah, M.Pd, dosen FKIP UMG, menegaskan bahwa AI dapat membantu guru dalam berbagai aspek, seperti: Analisis data belajar siswa, Pengembangan bahan ajar digital, Penilaian otomatis, Pembelajaran adaptif yang disesuaikan dengan kemampuan siswa
Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya posisi guru sebagai figur sentral dalam pengembangan karakter.
“AI memberikan efisiensi, tetapi pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan. Ada nilai-nilai, empati, dan budi pekerti yang tidak bisa digantikan oleh mesin,” tegasnya.
diikuti 250 dari para akademisi, mahasiswa, hingga praktisi sekolah menjadi bukti bahwa isu transformasi pendidikan di era AI sangat relevan dan menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Banyak peserta menyampaikan bahwa konferensi ini membuka wawasan baru sekaligus memberi gambaran nyata tentang bagaimana AI dapat diterapkan dalam kelas secara efektif, tanpa menghilangkan esensi pendidikan itu sendiri.
Konferensi internasional ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga momentum untuk membangun kesadaran bahwa pendidikan masa depan membutuhkan kesiapan semua pihak. Guru harus terus belajar, institusi pendidikan harus berinovasi, dan kerja sama antar negara harus diperkuat.
Dengan terselenggaranya 3rd UMGCINMATIC International Conference, Universitas Muhammadiyah Gresik membuktikan perannya sebagai kampus yang adaptif dan visioner dalam menjawab tantangan global. Harapannya, kegiatan ini menjadi pijakan baru dalam memperkuat pendidikan guru di Indonesia dan Asia Tenggara menghadapi era kecerdasan buatan yang semakin dinamis.
By : Nur Cahyadi


