PSI.UMG – Selamat milad ke-113 Muhammadiyah. Dalam usia yang makin matang ini, menarik untuk merefleksikan bagaimana perjalanan gerakan Islam ini mencerminkan nilai-nilai stoikisme dalam praktiknya. Bukan berarti Muhammadiyah mengadopsi filsafat stoikisme secara sadar, melainkan terdapat kemiripan yang menarik dalam pola pikir dan pendekatannya membangun bangsa. Seperti halnya para penganut stoikisme, Muhammadiyah menunjukkan keteguhan luar biasa dalam menjaga konsistensi visi dan misinya.
Filsafat stoikisme menawarkan kerangka berpikir yang sangat jelas melalui dikotomi kendali. Prinsip ini membimbing seseorang untuk fokus hanya pada hal-hal yang berada dalam kendalinya. Muhammadiyah secara operasional telah mengadopsi kebijaksanaan ini dalam strategi pergerakannya selama lebih dari satu abad. Gerakan Islam ini secara sadar memilih untuk tidak terlibat dalam perdebatan yang tidak produktif dan hal-hal di luar kendalinya. Sebaliknya, seluruh energi dan sumber daya dialirkan untuk membangun institusi pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Keberadaan ribuan sekolah dan ratusan rumah sakit di seluruh Indonesia adalah bukti nyata dari komitmen ini. Dengan demikian, mereka membangun warisan peradaban yang konkret dan berkelanjutan.
Konsep “amor fati” atau mencintai takdir dalam stoikisme bukanlah bentuk kepasrahan yang pasif. Filosofi ini justru mengajak seseorang untuk menerima realitas sepenuhnya dan menjadikannya bahan bakar untuk bertindak lebih maju. Muhammadiyah mencerminkan nilai ini dalam cara mereka menyikapi setiap tantangan yang menghadang. Di tengah keterbatasan masa kolonial, mereka justru membangun institusi-institusi modern yang progresif. Setiap kesulitan berhasil dialihfungsikan menjadi peluang untuk berkontribusi lebih besar bagi masyarakat. Pendekatan ini mengubah rintangan menjadi medan tempaan yang memperkuat karakter gerakan. Sejarah membuktikan bahwa penerimaan yang aktif justru melahirkan inovasi dan pembaruan.
Inti dari etika stoikisme adalah “virtue” atau kebajikan yang dianggap sebagai satu-satunya hal yang benar-benar baik. Muhammadiyah mengejawantahkan prinsip serupa melalui “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”. Kedua sistem nilai ini bertemu pada titik yang sama yakni pentingnya tindakan nyata yang berlandaskan karakter moral yang kokoh. Konsistensi Muhammadiyah dalam menjaga integritas gerakan Islam selama lebih dari seabad adalah wujud nyata dari virtue tersebut. Bagi keduanya, martabat dan kebaikan sejati terletak pada keteguhan menjalani prinsip-prinsip luhur. Hal-hal eksternal seperti popularitas atau kekuasaan tidak menjadi tujuan utama. Inilah yang menjadi fondasi kredibilitas dan kepercayaan publik yang tak tergoyahkan.
Pola kerja dan ritme pembangunan yang diusung Muhammadiyah mencerminkan nilai stoikisme tentang ketenangan batin. Gerakan Islam ini dikenal dengan pendekatannya yang tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan strategis. Mereka selalu mengutamakan pertimbangan yang matang dan menyeluruh untuk kemaslahatan jangka panjang. Dalam menghadapi gejolak politik dan sosial, Muhammadiyah memilih untuk tidak reaktif dan emosional. Prinsip-prinsip dasar perjuangan seperti dakwah dan tajdid dipegang teguh sebagai kompas yang tetap. Pendekatan ini selaras dengan ajaran stoik untuk menjaga ketenangan jiwa di tengah badai dunia luar. Dengan demikian, mereka mampu menjaga stabilitas dan fokus pada visi pembangunan peradaban.
Pelajaran paling berharga dari teladan Muhammadiyah adalah pemahaman mendalam tentang arti konsistensi sejati. Perubahan sosial yang berarti dan berkelanjutan tidak pernah lahir dari aksi-aksi instan dan spektakuler. Sebaliknya, transformasi masyarakat dilahirkan dari kerja detail, tekun, dan tanpa henti yang dilakukan secara konsisten. Membangun bangsa dipahami sebagai sebuah proses maraton yang membutuhkan kesabaran aktif dan ketekunan luar biasa. Kesabaran ini merupakan kekuatan untuk terus menabur benih kebaikan meski hasilnya baru dinikmati generasi mendatang. Dalam semangat stoik, mereka paham bahwa kontribusi terbesar seringkali membutuhkan waktu yang panjang. Inilah esensi dari kerja-kerja peradaban yang membuat Muhammadiyah tetap relevan sepanjang zaman.
Keselarasan antara nilai-nilai Muhammadiyah dan stoikisme membuktikan adanya universalitas nilai-nilai luhur. Prinsip-prinsip seperti keteguhan, konsistensi, dan fokus pada aksi nyata adalah fondasi peradaban yang melampaui batas ruang dan waktu. Pertemuan kedua nilai-nilai ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan pertemuan pada kebenaran kemanusiaan yang universal. Inilah kunci utama yang menjelaskan ketahanan dan kontribusi nyata Muhammadiyah bagi Indonesia. Baik stoikisme maupun Muhammadiyah sama-sama menawarkan jalan untuk hidup bermartabat dan penuh makna. Keduanya mengajarkan bahwa kontribusi terbaik bagi dunia dilakukan dengan tenang, teguh, dan penuh keyakinan. Pada akhirnya, kearifan dalam membangun peradaban adalah warisan bersama umat manusia.





