PSI.UMG-Dalam perhelatan Simposium Nasional Kependudukan 2026, Senin 27 April 2026, Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, melemparkan wacana berkenaan rencana penutupan prodi kampus yang dianggap sepi peminat atau tidak relevan dengan industri. Info ini bagaikan petir di siang bolong bagi jagat akademik. Angka statistik yang disodorkan beliau terutama tentang surplus lulusan kependidikan yang mencapai ratusan ribu berbanding kebutuhan formasi yang secuil, memang memaksa kita untuk bergegas bangun dari tidur panjang kenyamanan di dunia kampus.
Kalangan akademik menanggapi ini dengan kening berkerut. Kekhawatiran bukan sekadar pada hilangnya status administratif prodi, melainkan pada nalar kebijakan yang cenderung mekanistik dan reduksionis terhadap makna pendidikan tinggi. Haruskah kebijakan ini berakhir dengan “eksekusi mati” terhadap sebuah jurusan bidang keilmuan ketika kita harus menakar relevansi kampus di era disrupsi?
Melampaui Tirani Linieritas
Poin krusial yang perlu dianalisa secara mendalam adalah obsesi kita terhadap linieritas jurusan. Selama puluhan tahun, sistem pendidikan dan pasar kerja kita terjebak dalam kotak-kotak kaku. Sarjana sosiologi harus menjadi sosiolog. Sarjana sastra harus menjadi penulis. Rigiditas atau kekakuan ini justru menjadi tembok penghalang penyerapan tenaga kerja.
Dunia kerja modern kini tak lagi membutuhkan “tukang” yang hanya paham satu sudut pandang sempit. Kompleksitas masalah global, mulai dari krisis iklim hingga transformasi digital, menuntut pendekatan multidisipliner dan interdisipliner. Seorang pengembang perangkat lunak perlu memahami antropologi untuk membaca perilaku pengguna. Seorang insinyur energi perlu memahami ekonomi politik untuk mengeksekusi transisi hijau. Perbaikan konsepsi pendidikan harus diarahkan untuk meruntuhkan tembok linieritas ini, bukan sekadar menutup prodinya.
Re-orientasi, Bukan Amputasi
Maka, alih-alih menutup prodi yang dianggap tidak mendukung arah industrialisasi, langkah yang lebih elegan adalah melakukan re-orientasi kurikulum. Masalah di kehidupan nyata selalu datang dalam bentuk yang semrawut dan kompleks. Sehingga, menutup suatu prodi karena dianggap tidak link and match dengan dunia pabrik adalah cara pandang yang dangkal.
Kampus seharusnya didorong untuk melakukan “persilangan budaya” keilmuan. Prodi sejarah, misalnya, bisa direorientasi menjadi analisis data sejarah untuk prediksi tren masa depan. Prodi kependidikan bisa berfokus pada teknologi instruksional masa depan. Re-orientasi ini memastikan bahwa lulusan memiliki kerangka berpikir yang kokoh namun dengan keterampilan yang adaptif terhadap perubahan industri. Solusi yang kita butuhkan bukan amputasi massal, namun evolusi konten.
Lokalitas Melawan Generalisasi Pusat
Yang tidak kalah penting adalah menolak generalisasi penutupan prodi secara nasional. Pemerintah tidak boleh menggunakan kacamata kuda dalam memandang kebutuhan daerah. Sebuah prodi yang mungkin dianggap sepi di Pulau Jawa, bisa jadi merupakan jantung penggerak pembangunan di pelosok daerah luar Jawa. Setiap daerah memiliki keunikan lokal, potensi sumber daya alam, dan tantangan sosial yang berbeda. Seandainya penutupan prodi terpaksa dilakukan, maka ia harus bersifat lokal dan otonom, berdasarkan kebutuhan riil perguruan tinggi dan wilayahnya masing-masing. Jika kebijakan ini dipukul rata dari pusat, kita justru berisiko melakukan pemiskinan intelektual di daerah yang sedang berupaya mengejar ketertinggalan.
Sebagai solusi struktural, pemerintah dan otoritas kampus patut mempertimbangkan adopsi model kurikulum fleksibel yang lazim diterapkan di universitas-universitas kelas dunia, yakni sistem major (jurusan utama) dan minor (jurusan pendamping). Dalam skema ini, mahasiswa tidak lagi dipaksa berkutat hanya dengan satu disiplin ilmu hingga lulus. Seorang mahasiswa teknik, misalnya, dapat mengambil major di bidang manufaktur namun memiliki minor di bidang desain atau psikologi industri.
Fleksibilitas ini memungkinkan prodi-prodi yang dianggap sepi peminat, tetap eksis sebagai disiplin minor yang memberikan nilai tambah dan kedalaman perspektif bagi mahasiswa dari jurusan lain. Dengan menciptakan kurikulum yang cair dan adaptif, kita tidak hanya mencetak lulusan calon pekerja yang monolitik, melainkan talenta tangkas yang memiliki kombinasi unik antara hard skills dan pemahaman kontekstual yang luas untuk menghadapi ketatnya persaingan di masa depan.
Perguruan tinggi bukanlah pabrik yang memproduksi sekrup untuk mesin industri. Ia adalah kawah candradimuka tempat akal-budi ditempa untuk menjawab tantangan zaman yang kian rumit. Menutup prodi adalah opsi terakhir, namun menghidupkan kembali relevansi ilmu pengetahuan dengan realitas sosial-ekonomi adalah kewajiban yang tak bisa ditawar. Jangan sampai atas nama efisiensi, kita justru kehilangan esensi.






