MUHAMMADIYAH DAN KEMAJUAN SEMU

Mohammad Ahyan Yusuf Sya’bani, UMG

Opini1540 Dilihat

PSI.UMG – Menjadi konsumsi publik terkait kebesaran organisasi yang didirikan oleh KHA Dahlan 113 tahun lalu. Tentu ini adalah pencapaian Maha Karya Muhammadiyah yang memiliki ribuan amal usaha yang tersebar seantero Nusantara bahkan luar negeri. Bisa dilihat bersama mulai dari rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, belum lagi jumlah masjid, panti asuhan dan sejumlah amal usaha yang bergerak di bidang ekonomi, kewirausahaan, properti serta masih banyak lainnya. Dua hal utama ini yaitu basis massa yang besar dan aset bangunan dan bahkan potensi ekonomi yang besar dimiliki membuat Muhammadiyah semakin tak tertandingi sebagai komunitas yang terorganisasi dengan sangat baik. Di sisi lain belum lagi ditambahkan dengan militansi yang dimiliki oleh para kadernya yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Semua kalangan pasti kagum dan menggelengkan kepala melihat pencapain kemajuan muhammadiyah saat ini. Banyak pertanyaan muncul bagaimana bisa sekelas organisasi dunia yang terlahir dari gerakan inspiratif Sang Pendiri bermula dari dapur rumah yang disulap menjadi tempat mengajar dan langgar (musala) kecil dan tua peninggalan Sang Ayah KH Abu Bakar bisa menjelma menjadi gurita raksasa menebar sekian banyak amal usaha dengan jumlah anggota serta pengikut berjumlah jutaan melintasi sekat etnis, suku, agama, dan bahkan negara. Bahkan diyakini pula dunia pasti mengenal nama besar dan keren dari Muhammadiyah, belum lama PWM Jawa Timur melalui PP Muhammadiyah dengan ar rihlah at tsaqafiyah nya akan mengakuisisi gereja di Alcala, Spanyol sungguh cita-cita Maha Agung yang dimiliki Muhammadiyah.

Beberapa tokoh Muhammadiyah pun mendapatkan banyak penghargaan tidak hanya secara domestik melainkan telah diakui oleh banyak negara, hal ini bisa dilihat dari apa yang didapatkan oleh Allahuyarham Buya Syafii Maarif dengan Ramon Magsaysay nya. Adapula Prof Haedar Nashir melalui Muhammadiyah bersama Ketua PBNU KH Kholil Yahya Staquf mendapat penghargaan Zayed Award for Human Fraternity 2024 dari Uni Emirat Arab dalam mempromosikan persaudaraan dan kemanusiaa. Memang tiada bandingnya tokoh tokoh Muhammadiyah dalam hal mendapatkan ribuan pengakuan dan penghargaan. Keberhasilan lain organisasi besar ini ialah menggaungkan Kalender Hijriyah Global Tunggal sebagai kalender dunia milik umat Islam (KHGT).

Sejenak beralih dari segala kebesaran nama Muhammadiyah sejagad raya, di balik itu semua masih terdengar jeritan sekolah atau madrasah milik Muhammadiyah di pelosok negeri yang harus menutup kegiatan operasinya karena kehilangan murid atau sudah ditinggalkan dan tidak terurus lagi bisa dikatakan bangkrut. Kalau melihat kondisi warga Muhammadiyah juga terasa sangat miris bagaimana bisa dengan jutaan amal usaha lintas negara itu masih banyak simpatisan atau juga warga persyarikatan justru tidak mampu memasukkan anaknya di lembaga pendidikan milik Muhammadiyah sendiri dan pastinya sudah menjadi rahasia umum yaitu terkendala biaya.

Ditambahkan lagi jika permasalahan ekonomi dianggap monoton atau jumud ada lagi persoalan di tubuh persyarikatan sendiri melalui amal usahanya terkait adanya budaya kerja like and dislike meskipun ini terjadi tidak semua terjadi di amal usaha Muhammadiyah. Hal ini tidak dimaksudkan untuk mengumbar kekurangan persyarikatan Muhammadiyah akan tetapi menjadi sebuah bahan renungan untuk kembali bangkit memperbaiki itu semua demi kelangsungan organisasi ini yang telah melewati usia seabad. Lantas terbersit dalam pikiran kemajuan seperti apakah yang seharusnya perlu digagas dan dilakukan oleh organisasi dunia Muhammadiyah yang mengusung konsep Islam Berkemajuan, apalagi yang dihubungkan dengan filosofi beragama yaitu Din Al Islam.

Jadi di sini terdapat semacam timbangan kemajuan yang berat sebelah (bahkan semu). Di satu sisi timbangan melesat jauh kemajuannya di satu sisi timbangan lainnya kemajuan tidak nampak seperti ketika melihat matahari yang akan tenggelam di ufuk barat. Apakah ada yang salah di dalam tubuh organisasi besar dunia ini ataukah hanya pikiran sesaat kita yang terkadang melanglangbuana tiba-tiba terpikirkan begitu saja. Kemajuan semu inilah menjadi pekerjaan rumah dengan bagaimana caranya menjadikan sebagai suatu kemajuan yang hakiki bagi warga persyarikatan. Apalagi Muhammadiyah sudah tidak zamannya lagi berkutat pada dogmatisme agama dalam memakmurkan masyarakat luas tetapi lebih dari itu spirit Muhammadiyah harus hidup pada jiwa seseorang yang masih kesulitan dalam mencari pekerjaan utama. Spirit Muhammadiyah harus hidup pada kondisi marginal kaum miskin yang kadangkala hanya untuk makan sekali sehari pun mereka tak berdaya. Spirit Muhammadiyah juga harus hidup pada diri elite politik kita agar mampu menjaga marwah negara ini dari tindakan korupsi yang membuat si pelaku justru semakin bangga dengan korupsi yang dilakukannya. Wallahu a’lam.

By ; Mohammad Ahyan Yusuf Sya’bani

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *