PSI.UMG – Di era digital, berbelanja tidak lagi memerlukan uang tunai atau kartu kredit. Cukup dengan satu klik, barang bisa langsung dibeli dan pembayaran ditunda. Fitur pay later hadir sebagai solusi praktis bagi masyarakat yang ingin memenuhi kebutuhan tanpa harus menunggu gajian. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersembunyi risiko besar, terutama bagi remaja yang masih dalam proses belajar mengelola keuangan.
Bagi remaja, pay later sering kali bukan digunakan untuk kebutuhan mendesak, melainkan untuk memenuhi gaya hidup. Mulai dari gawai terbaru, pakaian bermerek, hingga keperluan hiburan. Sistem “beli sekarang, bayar nanti” memberi ilusi kemampuan finansial yang semu. Remaja merasa mampu membeli sesuatu, padahal sebenarnya hanya menunda kewajiban membayar di masa depan.
Masalah muncul ketika kemudahan ini tidak dibarengi dengan literasi keuangan yang memadai. Banyak remaja belum memahami konsep bunga, denda keterlambatan, dan dampak utang jangka panjang. Akibatnya, tagihan menumpuk tanpa disadari. Ketika jatuh tempo tiba, sebagian dari mereka terpaksa meminjam kembali untuk menutup utang sebelumnya. Inilah awal dari lingkaran utang yang sulit dihentikan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, penggunaan pay later dapat membentuk pola konsumtif sejak dini. Remaja terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan secara instan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial. Kebiasaan ini berpotensi terbawa hingga dewasa, menciptakan generasi yang rapuh secara ekonomi dan bergantung pada utang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Aspek psikologis juga tidak bisa diabaikan. Tekanan untuk tampil “setara” dengan teman sebaya di media sosial sering mendorong remaja menggunakan pay later demi menjaga citra diri. Ketika tidak mampu membayar tagihan, rasa cemas, stres, dan malu pun muncul. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental, prestasi belajar, bahkan hubungan keluarga.
Di sisi lain, regulasi dan pengawasan terhadap penggunaan pay later oleh remaja masih perlu diperkuat. Meski sebagian platform memiliki batasan usia, praktik di lapangan sering kali longgar. Remaja dapat menggunakan akun orang tua atau memanipulasi data tanpa pengawasan yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan konsumen muda belum sepenuhnya optimal.
Bukan berarti pay later harus sepenuhnya dihindari. Pada orang dewasa dengan pendapatan stabil dan pemahaman finansial yang baik, fitur ini bisa menjadi alat pengelolaan keuangan yang efektif. Namun, bagi remaja, pay later seharusnya diperkenalkan dengan batasan yang jelas dan pendampingan yang kuat.
Peran orang tua, sekolah, dan pemerintah menjadi sangat penting. Edukasi literasi keuangan perlu ditanamkan sejak dini, termasuk pemahaman tentang utang, bunga, dan konsekuensi finansial. Orang tua juga perlu lebih terbuka berdiskusi dengan anak mengenai uang dan tanggung jawab finansial, bukan sekadar melarang tanpa penjelasan.
Pay later adalah cermin dari kemajuan teknologi keuangan, tetapi juga ujian kedewasaan finansial kita. Jika tidak disikapi dengan bijak, kemudahan ini bisa berubah menjadi jebakan yang merugikan masa depan remaja. Sudah saatnya kita memastikan bahwa kemajuan digital berjalan seiring dengan kesiapan mental dan literasi keuangan generasi muda.






