PSI.UMG – Usia Muhammadiyah yang lebih dari satu abad membuktikan bahwa gerakan Muhammadiyah tidak pernah lelah dalam memajukan peradaban. Kita menyaksikan bagaimana semangat Islam berkemajuan melintasi zaman, menjawab tantangan dan terus mendorong perubahan. Namun, ada satu isu yang perlu perhatian serius dan langkah progresif yaitu tentang kesehatan reproduksi remaja.
Bonus demografi di Indonesia sebagai suatu tanda tingginya jumlah generasi muda. Al Qur’an mengingatkan kita bahwa : “Janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah” (QS. Al Baqarah: 195). Ayat ini bukan hanya perintah untuk membelanjakan harta, tetapi juga larangan agar tidak menjatuhkan diri dalam kehancuran dan ajakan untuk berbuat ihsan. Termasuk membekali remaja dengan literasi yang cukup untuk menjaga kesehatan tubuh, akal, dan masa depan.
Saat ini, topik reproduksi masih dianggap tabu oleh sebagian keluarga dan masyarakat. Sehingga, remaja mencari jawaban ditempat yang salah seperti media sosial yang menjerumuskan atau teman sebaya yang juga tidak faham. Akibatnya, remaja terjebak dalam miskonsepsi seputar pubertas, menstruasi, hubungan antar lawan jenis, hingga pengambilan keputusan yang menyangkut masa depan mereka. Fenomena pernikahan usia dini, kekerasan seksual, kehamilan tidak diinginkan, gizi remaja yang buruk, serta meningkatnya gangguan kesehatan mental remaja menunjukkan bahwa bangsa ini berada pada titik kritis. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang Indonesia maju jika para remaja tidak dibekali dengan pengetahuan dasar untuk menjaga tubuh dan masa depannya?
Pendidikan tentang kesehatan reproduksi bukan mengajarkan hal-hal vulgar, tetapi sebuah upaya menanamkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan agar remaja dapat menjaga kehormatannya, memahami perubahan tubuhnya, dan membuat keputusan yang sehat dan bertanggungjawab.
Muhammadiyah memiliki kekuatan struktural yang luar biasa, dimana lebih dari 17 ribu amal usaha pendidikan, ratusan rumah sakit dan klinik, ribuan kader muda dari IPM, IMM, NA, hingga pemuda Muhammadiyah adalah pilar besar pembentuk karakter generasi bangsa yang diharapkan dapat menjadi tempat aman (safe zone) bagi remaja untuk bertanya, berkonsultasi, dan mencari solusi. Modal itu akan menjadi kekuatan yang luar biasa bila dimanfaatkan untuk mendorong kesadaran kesehatan reproduksi remaja secara masif dan sistematis.
Sekolah-sekolah Muhammadiyah bukan hanya ruang transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan nilai. Di sinilah pendidikan kesehatan reproduksi dapat diberikan dengan ilmiah, manusiawi, dan bernilai Islam. Guru sebagai teladan dapat dilatih untuk menjadi pendidik sekaligus konselor pertama bagi remaja. Bayangkan jika seluruh sekolah Muhammadiyah menjadikan literasi pubertas, menstruasi sehat, kesehatan mental, dan etika pergaulan sebagai bagian dari pembelajaran. Betapa banyak remaja yang akan merasa lebih aman, lebih percaya diri, dan lebih siap menghadapi masa depan.
Selain itu, remaja tidak hanya butuh penjelasan, tetapi juga pendampingan. Melalui para mubaligh, dan aktivis dakwah Muhammadiyah yang ramah remaja, pesan kesehatan reproduksi dapat disampaikan dalam bahasa yang membangun, memotivasi, dan tidak menghakimi. Maka pendidikan kesehatan reproduksi bukan sekadar pengetahuan ilmiah, tetapi wujud ibadah untuk melindungi diri dan bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor gerakan nasional dalam meningkatkan literasi kesehatan reproduksi remaja. Setidaknya terdapat beberapa langkah strategis yang dapat terus diperkuat:
- Integrasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi di Sekolah Muhammadiyah; Kurikulum sekolah Muhammadiyah dapat semakin menonjolkan aspek pendidikan kesehatan reproduksi berbasis sains dan nilai Islam. Guru-guru dapat dibekali pelatihan agar mampu menyampaikan materi sensitif ini dengan cara yang mendidik, bukan menakut-nakuti atau menghakimi.
- Penguatan Kader dan Aktivis IPM, IMM, dan Nasyiatul Aisyiyah; Organisasi otonom Muhammadiyah dapat menjadi agent of change. Pelatihan peer educator sangat penting, karena remaja cenderung lebih percaya kepada teman sebaya dalam membahas isu pribadi.
- Layanan Kesehatan Ramah Remaja di Amal Usaha Kesehatan Muhammadiyah (AUMK); Klinik dan rumah sakit Muhammadiyah dapat memperluas layanan konsultasi remaja, termasuk edukasi menstruasi, kesehatan mental, gizi remaja, dan perencanaan masa depan.
- Dakwah yang Adaptif dan Relevan; Para mubaligh dapat menyampaikan pesan moral tentang menjaga kehormatan diri, kesehatan tubuh, dan tanggung jawab sosial dengan pendekatan empatik, bukan menghakimi. Islam sangat menjunjung tinggi pemeliharaan kesehatan (hifzh an-nafs), dan nilai ini harus terus dihidupkan.
- Pemanfaatan Digital Muhammadiyah untuk Literasi Reproduksi; Media digital seperti website, podcast, konten video, maupun platform sosial dapat menjadi sarana dakwah kesehatan reproduksi yang informatif dan ramah remaja. Muhammadiyah memiliki jaringan intelektual besar yang bisa bersinergi menghasilkan konten berkualitas.
Sekali lagi bahwa kesejahteraan bangsa bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga tentang kualitas manusia. Ketika remaja memiliki literasi kesehatan reproduksi yang baik, mereka akan tumbuh sebagai generasi yang: (a) mampu menjaga tubuh dan kesehatannya, (b) memahami batasan dan etika pergaulan, (c) siap merencanakan masa depan, (d) terhindar dari kekerasan seksual dan perilaku berisiko, (e) memiliki kesiapan mental menuju pernikahan yang sehat, (f) dan mampu menjadi orang tua yang bertanggung jawab.
Inilah generasi yang akan mengisi ruang-ruang akademik, profesional, dan kepemimpinan di masa depan. Dan inilah investasi terbesar Muhammadiyah untuk memajukan kesejahteraan bangsa.
Pada akhirnya bertepatan dengan Milad Muhammadiyah ke-113 ini, kita diingatkan kembali bahwa dakwah bukan hanya soal mimbar, tetapi juga tentang keberanian menjawab kebutuhan zaman. Menguatkan kesehatan reproduksi remaja adalah bagian dari jihad kemanusiaan untuk menjaga generasi agar tumbuh sehat, berdaya dan bermartabat.
By : Rizka Esty Safriana











