Bersama Muhammadiyah: Mencerahkan Keluarga, Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Diah Fauzia Zuhroh - Universitas Muhamamdiyah Gresik

Opini519 Dilihat

PSI.UMG – Ketika berbicara tentang kesejahteraan bangsa, sering kali perhatian kita tertuju pada hal-hal besar seperti pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, atau pembangunan infrastruktur. Padahal, jauh sebelum semua itu, ada satu fondasi yang jauh lebih menentukan arah masa depan Indonesia: keluarga. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah menegaskan bahwa keluarga merupakan pusat pembentukan masyarakat, sebagaimana tertuang dalam nilai perjuangannya untuk  “mewujudkan keluarga berakhlak mulia, sehat, cerdas, dan bertanggung jawab”. Nilai inilah yang sesungguhnya menghidupkan ruang tamu tempat orang tua berbincang dengan anak, meja makan tempat keluarga saling mendengar, hingga sudut kecil rumah tempat anak belajar mengenali dirinya dan dunianya. Saya meyakini bahwa kesejahteraan bangsa tidak selalu lahir dari kebijakan besar, tetapi dari rumah-rumah sederhana yang dikelola dengan cinta, nilai, dan keteladanan.

Namun pengasuhan masa kini tidaklah mudah. Orang tua menghadapi tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Anak-anak tumbuh di tengah dunia yang dipenuhi gawai, media sosial, dan arus informasi tanpa henti yang sering kali lebih cepat dari kemampuan orang tua mengawasinya. Di balik kemudahan teknologi, ada ancaman yang nyata: cyberbullying, perbandingan sosial yang memicu kecemasan, gangguan tidur akibat kecanduan layar, hingga meningkatnya kasus kesehatan mental remaja. Di waktu yang sama, persoalan klasik seperti stunting, kurang gizi, minimnya aktivitas fisik, dan kebersihan lingkungan yang kurang terjaga masih menghantui banyak keluarga. Rumah yang kita kira aman pun dapat menjadi tempat yang kurang mendukung tumbuh kembang anak jika komunikasi di dalamnya rapuh atau waktu kebersamaan semakin menipis. Dalam pengalaman saya sebagai pendidik keperawatan anak, keretakan kecil dalam komunikasi keluarga sering kali memengaruhi kondisi emosional, kesehatan, hingga pola belajar anak.

Di tengah tantangan itu, keluarga membutuhkan kompas yang menjaga arah pengasuhan agar tidak goyah diterpa perubahan zaman. Di sinilah nilai-nilai dalam Pedoman Rumah Tangga Muhammadiyah (PRTM) kembali menemukan relevansinya. Nilai keteladanan, misalnya, terlihat sederhana tetapi sangat berdampak. Orang tua yang menunaikan salat tepat waktu, membaca doa sebelum makan, atau membatasi penggunaan gawai di depan anak jauh lebih efektif daripada nasihat yang diulang berkali-kali. Saya pernah melihat seorang ibu yang membiasakan “waktu tanpa layar” setiap malam selama satu jam. Ia tidak memaksa anaknya, melainkan memulai dengan mematikan gawainya terlebih dahulu. Tanpa banyak kata, anaknya perlahan mengikuti. Begitu pula dengan nilai kebersihan yang dapat dihidupkan melalui kegiatan kecil seperti membersihkan rumah bersama setiap akhir pekan sambil bercerita dan tertawa. Dari kebiasaan tersebut, anak belajar bahwa menjaga kebersihan adalah ibadah, bukan kewajiban yang membebani. Melalui praktik-praktik nyata inilah PRTM tidak hanya menjadi dokumen, tetapi panduan hidup yang membumi.

Selain nilai, pendekatan pengasuhan yang tepat juga diperlukan. Di dunia kesehatan, khususnya keperawatan anak, konsep Family Centered Care (FCC) telah lama menjadi prinsip penting. FCC menempatkan keluarga sebagai pusat pengambilan keputusan, pusat komunikasi, dan sumber dukungan emosional bagi anak. Ketika konsep ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, pengasuhan menjadi lebih hangat dan manusiawi. Saya pernah mendampingi keluarga yang anak remajanya mulai menunjukkan kecanduan gawai. Awalnya, orang tua menegur dan menyita gawai tanpa dialog, sehingga anak menutup diri. Setelah mencoba pendekatan FCC dengan duduk bersama, mendengarkan alasan sang anak, berdiskusi tentang aturan, dan mencari aktivitas alternatif sehingga situasi berubah. Anak mulai membatasi penggunaan gawainya secara mandiri karena merasa dihargai, bukan dihakimi. Dari situ saya belajar bahwa anak bukan objek aturan, tetapi individu yang ingin didengar.

Dalam era digital, pengasuhan juga harus memuat literasi digital. Anak perlu dibimbing untuk beretika, memilih konten bermanfaat, menjaga privasi, dan memanfaatkan teknologi untuk belajar. Muhammadiyah, dengan jaringan sekolah dan lembaga pendidikannya, memiliki peran besar. Program parenting class, edukasi literasi digital, pendampingan kesehatan mental, hingga kampanye rumah sehat dapat memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Ketika keduanya berjalan seiring, anak mendapat nilai dan teladan yang selaras, baik di rumah maupun di sekolah.

Momentum Milad ke-113 Muhammadiyah membawa pesan optimisme bahwa gerakan ini selalu relevan dalam menjawab tantangan zaman. Sebagai tenaga pendidik di Fakultas Kesehatan dengan peminatan keperawatan anak, saya meyakini bahwa pengasuhan berbasis nilai Muhammadiyah dan pendekatan FCC adalah investasi terbaik untuk menyiapkan generasi yang tangguh, sehat, dan berkarakter. Kita mungkin tidak dapat memperbaiki semua persoalan bangsa sekaligus, tetapi kita dapat memperbaiki suasana rumah kita. Mari mulai dari langkah sederhana: memperkuat dialog, menghadirkan keteladanan, dan menciptakan rumah yang aman bagi tumbuh kembang anak. Ketika keluarga kuat, bangsa ikut menguat. Pada akhirnya, kesejahteraan bangsa benar-benar bermula dari rumah-rumah kita.

Penulis: Diah Fauzia Zuhroh  (Universitas Muhamamdiyah Gresik)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *