Pusat Studi Gender UMG Mulai Kajian Gender Multiperspektif, Targetkan Buku dan Riset Kolaboratif

PSI UMG – Pusat Studi Gender Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) mengawali rangkaian Studi Gender Multiperspektif pada Rabu (15/7/2026) di Pusat Studi Gender UMG. Kegiatan ini menjadi forum akademik lintas disiplin yang mempertemukan akademisi dan praktisi untuk mendiskusikan isu gender secara komprehensif dari perspektif sosial, budaya, agama, ekonomi, hingga kesehatan.

Hadir sebagai pemantik diskusi Ketua PADMA Indonesia Sidiq Notonegoro, Diskusi diikuti oleh Ketua Pusat Studi dan Inovasi UMG Umaimah, Ketua Bidang Sosial Humaniora Abd. Kholid,, Ketua Bidang Kesehatan dan Eksakta Ernawati. tim Perkumpulan PADMA Indonesia dan dosen Universitas Muhammadiyah Gresik dari berbagai bidang keilmuan. Sejak awal hingga akhir kegiatan, suasana berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta yang aktif menyampaikan pandangan, pertanyaan, serta pengalaman sesuai disiplin ilmu masing-masing.

Dalam paparannya, Sidiq Notonegoro menjelaskan bahwa berkembangnya berbagai perspektif gender tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Transformasi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri hingga era digital telah mengubah cara pandang terhadap relasi laki-laki dan perempuan. Menurutnya, perubahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari aspek sosiologis, ekonomi, politik, budaya, hingga agama, sehingga melahirkan beragam perspektif tentang gender yang terus berkembang mengikuti dinamika zaman.

Ia menambahkan, perubahan sosial juga memunculkan berbagai persoalan baru, seperti pembagian peran dalam keluarga, tanggung jawab domestik dan publik, serta upaya mewujudkan keadilan sosial tanpa mengabaikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Karena itu, memahami gender tidak cukup hanya dari satu sudut pandang, tetapi perlu melihatnya secara multiperspektif agar mampu menjawab tantangan sosial secara lebih utuh.

Menanggapi paparan tersebut, Abd. Kholid menekankan bahwa budaya menjadi salah satu faktor penting yang membentuk konstruksi gender di masyarakat. Berbagai praktik sosial, termasuk budaya patriarki, menurutnya perlu dipahami secara kritis dalam konteks sejarah dan perubahan sosial sehingga mampu menghasilkan pemahaman yang lebih objektif dan tidak terjebak pada narasi yang menyederhanakan persoalan gender.

Sementara itu, Ernawati mengingatkan bahwa perspektif kesehatan memiliki keterkaitan erat dengan keadilan gender. Menurutnya, laki-laki dan perempuan harus memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses layanan kesehatan, pendidikan kesehatan, serta informasi mengenai kesehatan reproduksi dan kesehatan mental. Keadilan gender di bidang kesehatan bukan sekadar memberikan layanan yang sama, tetapi memastikan setiap individu memperoleh hak sesuai kebutuhannya sehingga mampu mencapai derajat kesehatan yang optimal. Oleh karena itu, perspektif gender perlu menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan maupun program kesehatan masyarakat.

Ketua Pusat Studi dan Inovasi UMG, Umaimah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal membangun tradisi diskusi ilmiah yang berkelanjutan mengenai isu gender. Kajian ini dirancang berlangsung dalam tujuh kali pertemuan dengan melibatkan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai disiplin ilmu sehingga mampu melahirkan perspektif yang komprehensif dan berbasis riset.

“Melalui forum ini kami ingin menghadirkan ruang dialog ilmiah yang terbuka dan kolaboratif. Isu gender perlu dikaji secara akademik dari berbagai perspektif agar mampu menghasilkan pemikiran yang konstruktif dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Sebagai luaran, rangkaian Studi Gender Multiperspektif ditargetkan menghasilkan sebuah buku ilmiah mengenai gender multiperspektif sekaligus riset kolaboratif yang akan dipublikasikan pada jurnal ilmiah. Kedua luaran tersebut diharapkan menjadi kontribusi Pusat Studi Gender UMG dalam memperkaya khazanah keilmuan sekaligus memperkuat budaya riset kolaboratif yang berorientasi pada penyelesaian berbagai persoalan sosial di Indonesia.

Antusiasme peserta sepanjang diskusi menunjukkan tingginya minat akademisi terhadap pengembangan kajian gender yang tidak hanya berangkat dari pendekatan normatif, tetapi juga mempertimbangkan dimensi sosial, budaya, kesehatan, dan kemanusiaan secara utuh. Melalui forum ini, UMG berharap dapat melahirkan gagasan-gagasan baru yang mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan beradab.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *