PSI.UMG – Muhammadiyah bukanlah kendaraan politik praktis yang berorientasi pada perlombaan kekuasaan semata. Ia adalah manifestasi politik akar rumput yang lahir dari semangat keagamaan, sosial, dan kemanusiaan, yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. Muhammadiyah mengajarkan bahwa politik bukan sekadar soal kepentingan sesaat, melainkan misi kemanusiaan yang berakar kuat di hati rakyat kecil. Politik akar rumput ini membumikan aspirasi umat, sekaligus memupuk kesadaran akan pentingnya peran aktif masyarakat dalam pembangunan bangsa. Dengan demikian, Muhammadiyah tampil bukan sebagai partai politik yang berharap kursi kekuasaan, melainkan sebagai institusi sosial-keagamaan yang berjuang membangun masa depan bangsa dari dasar. Sebaliknya, Muhammadiyah mengonseptualisasikan politik sebagai pengabdian dan tanggung jawab sosial yang harus dimulai dari akar rumput. Politik yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat kecil, yang membangun fondasi bangsa dalam suasana keadilan dan kemakmuran yang merata.
Sejak didirikan pada tahun 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah menjadi mercusuar pencerahan melalui dakwah, pendidikan, dan amal sosial. Langkah-langkah nyata yang dilakukan Muhammadiyah seperti mendirikan sekolah, rumah sakit, panti sosial, dan berbagai lembaga lainnya, merupakan bentuk politik sosial yang tidak monoton tetapi berdampak langsung. Melalui amal usaha ini, Muhammadiyah membumi di tengah masyarakat, tidak hanya menjadi suara moral, tetapi juga menjadi pelaku perubahan yang memberikan harapan dan solusi. Keberanian Muhammadiyah untuk selalu mengedepankan nilai-nilai kejujuran, keikhlasan, dan pelayanan tulus telah menjadikannya simbol politik yang jauh dari intrik dan pragmatisme politik biasa. Dari pelosok pedesaan hingga kota-kota besar, Muhammadiyah hadir untuk memberikan pendidikan yang membebaskan dari kemiskinan intelektual dan membangun kesadaran sosial. Pendidikan bukan hanya ilmu pengetahuan, tapi juga pendidikan moral dan spiritual yang mengarahkan umat untuk menjadi insan yang bertanggung jawab dan peka terhadap sekitar.
Politik akar rumput yang diusung Muhammadiyah juga berarti membangun kekuatan sosial dari bawah, yang melibatkan semua lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan status sosial, suku, ataupun latar belakang ekonomi. Ini adalah politik inklusif yang memandang bahwa kekuatan sebuah bangsa lahir dari persatuan dan kerja sama antar sesama yang sadar akan peran dan tanggung jawabnya. Bukan politik eksklusif yang memecah belah, yang hanya memperjuangkan kepentingan segelintir elit dan golongan. Dalam konteks Indonesia yang plural dan dinamis, sikap Muhammadiyah yang konsisten terhadap nilai-nilai kebangsaan dan keislaman sekaligus mampu menjadi perekat pribadi bangsa. Muhammadiyah tidak berpolitik identitas yang menyudutkan, tetapi politik inklusif yang mempersatukan. Kehadirannya sebagai organisasi Islam yang moderat, progresif, dan berbasis rakyat, menjauhkan diri dari konflik sektarian dan membawa wacana yang membangun harmoni.
Menyambut usia yang ke-113, Muhammadiyah semakin kokoh dan matang dalam menjalankan amanah ini. Ia telah melewati berbagai fase sejarah yang menantang, seperti masa penjajahan, kemerdekaan, dan reformasi. Kota dan desa, kaum urban dan rural, pelajar dan petani, semuanya merasakan sentuhan positif dari gerakan amal dan pendidikan Muhammadiyah. Semakin bertambah usia, Muhammadiyah bukan berkurang semangat, melainkan semakin membara dengan inovasi dan konsistensi dalam menjawab tantangan zaman. Kokohnya Muhammadiyah di usia ini juga terbukti dari kekuatan organisasinya yang solid, jejaring yang luas, serta kepemimpinan yang visioner dan penuh integritas. Pemikiran Muhammadiyah yang terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta isu-isu sosial global, membuatnya tidak pernah ketinggalan zaman. Ia terus memperbaharui metode dakwah dan pemberdayaan agar tetap relevan dengan kondisi masyarakat kini tanpa menanggalkan nilai-nilai dasar.
Dalam perjalanan panjangnya, Muhammadiyah juga menunjukkan bagaimana sebuah organisasi dapat menikmati kematangan tanpa kehilangan semangat perubahan dan inovasi. Ia terus berkembang, menggaungkan pesan moral dan sosial yang relevan dengan perubahan zaman. Ini adalah politik yang tidak hanya berbicara di ruang formal tetapi ada di lapangan, membuka ruang dialog antargenerasi, dan melibatkan semua unsur masyarakat. Dengan usia yang ke-113, Muhammadiyah mengukuhkan dirinya sebagai pilar utama politik akar rumput yang bertumpu pada prinsip-prinsip keagamaan dan kemanusiaan. Ia tidak hanya memberikan pengaruh melalui dakwah dan pendidikan, tetapi juga dengan gerakan sosial yang nyata dan sistematis. Muhammadiyah adalah bukti bahwa politik yang berlandaskan nilai dapat bertahan dan berkembang, jauh dari kepentingan sempit, dan mampu menciptakan perubahan abadi.
Di tengah berbagai persoalan bangsa yang kompleks, Muhammadiyah berperan sebagai suara hati yang memanggil kita semua untuk bersama-sama membangun bangsa dengan cara yang luhur dan bermartabat. Semangat politik akar rumput Muhammadiyah yang dibingkai dengan nilai keislaman dan sosial terus tumbuh dan berkembang, memberi inspirasi bahwa dari akar yang kuat akan lahir batang dan cabang yang melindungi dan memberi manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, perjalanan Muhammadiyah selama 113 tahun bukan hanya kisah perjuangan organisasi keagamaan, tetapi juga perjalanan panjang politik akar rumput yang berujung pada kebangkitan dan perbaikan sosial yang nyata. Muhammadiyah mengajarkan kita bahwa politik yang sejati adalah pengabdian kepada umat dan bangsa, yang dimulai dari dasar, tumbuh dalam kejujuran, dan berbuah bagi kehidupan semua, purwanto berharap muhammadiyah mampu menghadapi setiap tantangan untuk semakin bermanfaat.
By : Purwanto






