PSI.UMG – Milad Muhammadiyah ke-113 dengan tema “Muhammadiyah Memajukan Kesejahteraan Bangsa” kembali meneguhkan komitmen Persyarikatan untuk menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi umat dan bangsa. Semangat memajukan kesejahteraan bukan sekadar slogan, melainkan gerakan panjang yang sejak awal berdiri telah diwujudkan melalui amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Muhammadiyah senantiasa menempatkan kepentingan umat sebagai orientasi utama, berlandaskan etos kerja yang ikhlas, berkemajuan, dan solutif.
Lebih dari satu abad perjalanan, Muhammadiyah tidak hanya mencatat sejarah organisasi, tetapi juga menorehkan jejak peradaban. Di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan budaya, Muhammadiyah tampil sebagai gerakan yang responsif terhadap isu strategis masyarakat. Dakwah yang dikembangkan tidak terbatas pada dimensi ritual keagamaan, melainkan meluas pada aspek-aspek kehidupan yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Kesejahteraan merupakan fondasi penting bagi terbangunnya bangsa yang maju dan berkeadaban. Muhammadiyah memberikan teladan melalui beragam ikhtiar pemberdayaan: pendidikan yang mencerahkan, layanan kesehatan yang humanis dan terjangkau, penguatan ekonomi yang menumbuhkan kemandirian, serta respon cepat terhadap bencana dan krisis kemanusiaan. Sekolah, Perguruan Tinggi, Rumah Sakit, dan Lembaga Sosial Muhammadiyah menjadi benteng peradaban yang menumbuhkan kecerdasan, kepedulian, dan daya saing bangsa.
Gerakan sosial Persyarikatan juga diperkuat oleh lembaga-lembaga seperti Lazismu, MDMC, dan LLHPB yang sigap dalam aksi kemanusiaan. Kehadirannya menjadi penegas bahwa bangsa Indonesia memiliki modal sosial yang besar untuk saling menopang. Muhammadiyah membuktikan bahwa amal saleh sosial bukanlah konsep abstrak, tetapi kerja nyata yang melintasi batas suku, agama, dan budaya.
Dalam lintasan sejarahnya, Muhammadiyah tidak pernah menutup mata terhadap ketidakadilan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 104 yang menegaskan kewajiban kolektif umat Islam untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Itulah yang diwujudkan Muhammadiyah: menjadikan pendidikan sebagai jalan membangun kesadaran kritis, layanan kesehatan sebagai penghormatan terhadap martabat manusia, dan dakwah pencerahan sebagai energi perubahan agar umat tidak gentar menghadapi tantangan zaman. Inilah wajah Islam berkemajuan yang rahmatan lil ‘alamiin (rahmat bagi semesta).
Namun, tantangan kebangsaan ke depan semakin kompleks. Ketimpangan ekonomi, korupsi, kerusakan lingkungan, menurunnya literasi, hingga melemahnya demokrasi merupakan persoalan besar yang membutuhkan perhatian serius. Dalam situasi ini, Muhammadiyah dituntut hadir sebagai penjaga suara moral, menyampaikan kebenaran dengan jernih, serta mendorong tindakan nyata untuk memperkuat keadilan sosial.
Pada konteks ini, peran amal usaha Muhammadiyah—termasuk perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG)—menjadi sangat strategis. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang akademik, tetapi juga pusat pembentukan karakter, intelektualitas, dan kepemimpinan masa depan. Budaya kerja di UMG perlu bersandar pada prinsip Persyarikatan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Prinsip ini menuntut seluruh sivitas akademika—dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan pimpinan—untuk bekerja dengan dedikasi, inovasi, dan orientasi kebermanfaatan.
Dosen dituntut tidak sekedar mengajar serta korupsi waktu saat pembelajaran, melainkan dituntut menghasilkan gagasan, riset, dan karya yang menjawab kebutuhan masyarakat. Mahasiswa perlu membangun akhlak, etos kerja, dan kepedulian sosial agar hadir sebagai generasi yang mencerahkan. Sementara tenaga kependidikan harus memberikan pelayanan profesional, administrasi yang tertib, dan budaya kerja transparan serta anti-korupsi.
Ketika seluruh komponen kampus berorientasi pada kebermanfaatan, UMG dapat menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi Muhammadiyah berkontribusi dalam memajukan kesejahteraan bangsa. Kampus dapat menjadi ruang lahirnya inovasi, penguatan literasi, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pusat gerakan peduli lingkungan dan kesejahteraan sosial.
Dengan semangat amar ma’ruf nahi munkar, Muhammadiyah harus terus menjadi pilar moral bangsa—menjaga agar Indonesia tetap berada di jalan kebenaran, tidak tunduk pada kepentingan sempit, dan tidak gentar menghadapi ancaman yang merusak tatanan kehidupan. Kesejahteraan bangsa hanya dapat diwujudkan melalui keadilan yang ditegakkan, demokrasi yang dikawal, dan rakyat yang diberdayakan.
Pada momentum Milad Muhammadiyah ke-113 ini, marilah kita menumbuhkan optimisme, memperkuat kepedulian sosial, serta mengambil peran dalam gerakan kebaikan yang telah dicontohkan oleh Muhammadiyah. Kesejahteraan bangsa tidak hanya dibangun oleh lembaga besar, tetapi juga oleh tindakan kecil yang lahir dari keikhlasan setiap individu: membantu sesama, menjaga integritas, mencintai ilmu, menghargai lingkungan, dan berjuang menghadirkan manfaat bagi siapa pun di sekitar kita. Mari kita jadikan semangat amar ma’ruf nahi munkar sebagai energi perubahan, agar kita bisa berkontribusi yang lebih besar lagi.
Penulis: Tsalis Apriliyah (Universitas Muhammadiyah Gresik)





