MENGGERAKKAN KESEJAHTERAAN BANGSA DARI AKAR KEHIDUPAN

Arief Romadhon - Mahasiswa Muhammadiyah Ponorogo

Opini397 Dilihat

PSI.UMG – Milad Muhammadiyah ke-113 yang mengangkat tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa” bukan sekadar seremoni tahunan. Tema ini menjadi pengingat bahwa kesejahteraan harus hadir dalam kehidupan rakyat, bukan hanya tertulis dalam konstitusi. Dalam pidatonya, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menegaskan bahwa amanat konstitusi tentang kesejahteraan umum bukanlah pilihan, melainkan tugas besar yang harus wajib diwujudkan. Menurut saya, pernyataan ini seperti mengetuk hati dan kesadaran kita bersama, maka jangan biarkan kata-kata indah hanya menjadi pajangan. Kesejahteraan harus tumbuh menjadi kenyataan.

Prof. Haedar juga mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak hanya soal materi, tetapi juga ketenangan batin, rasa aman, dan lingkungan sosial yang manusiawi. Memang, Indonesia sering disebut sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan yang cukup tinggi. Tetapi di balik angka-angka itu, masih banyak saudara kita yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah kesenjangan ekonomi yang nyata, dan banyak keluarga yang setiap hari harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan pokok. Masih ada orang tua yang bekerja keras dari pagi hingga malam supaya anaknya tetap bisa bersekolah. Masih ada keluarga yang harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan. Gambaran-gambaran nyata sederhana inilah yang menunjukkan bahwa perjuangan untuk menghadirkan kesejahteraan masih panjang. Di tengah kenyataan itu, kontribusi Muhammadiyah terasa sangat nyata. Melalui ribuan sekolah dan kampus-kampus, Muhammadiyah membuka pintu masa depan bagi anak-anak bangsa dari berbagai latar belakang. Pendidikan yang diberikan bukan sekadar mengajar, tetapi membangun karakter diri, menanamkan nilai kejujuran, dan membentuk generasi muda berinovatif yang siap menghadapi dunia. Saya percaya pendidikan seperti ini adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan dan membangun masyarakat yang mandiri.

Di bidang kesehatan, rumah sakit Muhammadiyah ‘Aisyiyah telah menjadi penolong bagi banyak masyarakat kecil. Tidak sedikit yang merasakan pelayanan yang manusiawi dan terjangkau dari tenaga kesehatan yang bekerja dengan hati. Ketika pandemi melanda, rumah sakit Muhammadiyah berdiri di garis depan, mengorbankan tenaga dan waktu demi menyelamatkan nyawa. Dari sini kita belajar kesehatan adalah bagian penting dari kesejahteraan, dan pelayanan yang tulus dapat menjadi harapan bagi banyak orang.

Tidak kalah penting adalah peran Lazismu (Lembaga Amal, Zakat, Infaq, Sedekah Muhammadiyah). Saya pernah melihat bagaimana bantuan kecil bisa membuat perubahan besar. Ada pedagang kecil yang kembali bangkit setelah usahanya sempat terpuruk. Ada seseorang yang bisa terbebas dari hutang Riba karena telah dibantu pelunasan hutangnya melalui program PHR (Pembebasan Hutang Riba). Ada siswa yang bisa melanjutkan sekolah berkat beasiswa. Ada keluarga yang terbantu ketika bencana datang tiba-tiba. Lazismu menunjukkan bahwa kepedulian tidak harus megah dan mewah, maka seharusnya yang penting tepat sasaran, dilakukan dengan amanah, dan membawa kebaikan nyata bagi mereka yang membutuhkan. Namun, Prof. Haedar mengingatkan bahwa Muhammadiyah tidak boleh merasa puas dengan apa yang sudah dicapai. “Kami tidak ingin berada di zona nyaman,” ujarnya. Bagi saya, ini adalah pesan kuat dan bermakna namun keberhasilan masa lalu bukan tempat untuk beristirahat, tetapi pijakan untuk melangkah lebih jauh. Dan pesan itu bukan hanya untuk warga Muhammadiyah, tetapi untuk seluruh masyarakat Indonesia. Kita tidak boleh diam. Kita tidak boleh menunggu. Perubahan tidak datang dari mereka yang pasif, tetapi dari mereka yang mau bergerak.

Pada akhirnya, memajukan kesejahteraan bangsa adalah tanggung jawab bersama yang menghadirkan harapan. Harapan bahwa anak-anak di pelosok memiliki akses pendidikan yang layak. Harapan bahwa keluarga kurang mampu bisa mendapatkan layanan kesehatan yang manusiawi. Harapan bahwa ekonomi umat dapat tumbuh sehingga kesenjangan kehidupan tidak lagi menjadi cerita sehari-hari. Pemerintah memang memegang peran besar, tetapi masyarakat, organisasi, dan setiap individu juga menjadi bagian penting dalam gerak perubahan. Kesejahteraan tidak hanya lahir dari program besar, tetapi juga dari langkah-langkah kecil yang dinamis yang dilakukan dengan keikhlasan. Kesejahteraan bukan hadiah. Ia hasil dari kerja keras, kepedulian, dan keberanian untuk terus berbuat kebaikan. Ketika pendidikan diperbaiki, ketika layanan kesehatan dimudahkan, ketika ekonomi umat diberdayakan, dan ketika solidaritas tumbuh di antara kita, di situlah harapan bagi bangsa ini semakin terang. Muhammadiyah telah memberi teladan.

Kini, tugas kita adalah meneruskan dan memperluas langkah-langkah tersebut. Karena kesejahteraan bangsa bukan hanya cita-cita konstitusi, tetapi juga cita-cita kemanusiaan yang harus selalu kita perjuangkan. Semangat inilah yang telah dibawa Muhammadiyah selama lebih dari satu abad terus bergerak tanpa henti, memberi tanpa syarat, dan melayani tanpa menunggu pujian. Dari gerakan kecil yang tulus, dari sinergi perubahan yang serius, Indonesia yang lebih sejahtera akan lahir.

Penulis: Arief Romadhon  (Mahasiswa Muhammadiyah Ponorogo)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *