PSI.UMG – Perayaan Milad ke-113 Muhammadiyah adalah lebih dari sekadar penanda usia; ini adalah panggilan untuk introspeksi dan akselerasi peran kebangsaan. Dengan mengusung tema Muhammadiyah Memajukan Kesejahteraan Bangsa, fokus kita harus tertuju pada instrumen paling vital dalam pembangunan SDM: pendidikan vokasi. Selama ini, Muhammadiyah telah tegak sebagai mercusuar pendidikan dan amal sosial, namun tantangan bonus demografi dan revolusi industri 4.0 menuntut sebuah lompatan. Kesejahteraan bangsa tidak cukup hanya diurus, tetapi harus diciptakan. Di sinilah letak urgensi pergeseran filosofi pendidikan kejuruan Muhammadiyah, dari yang semula berorientasi School to Work menjadi Vokasi Berkemajuan dengan jiwa School to Enterprise
Mengatasi Jebakan Paradigma Lama
Secara umum, pendidikan kejuruan di tanah air, termasuk yang dikelola oleh amal usaha Muhammadiyah (AUM) pada awalnya, didominasi oleh kerangka School to Work. Tujuannya adalah mulia: mencetak tenaga kerja terampil yang siap mengisi pabrik, kantor, dan sektor jasa. Lulusan dipersiapkan untuk menjadi “pengisi” slot pekerjaan yang sudah tersedia.
Namun, cara pandang ini terbukti memiliki keterbatasan fundamental. Dalam pusaran ekonomi yang dinamis dan terdisrupsi, lulusan menjadi pihak yang pasif, nasib mereka bergantung penuh pada ketersediaan lapangan kerja. Ketika gelombang otomatisasi menyapu atau kondisi ekonomi melambat, kelompok inilah yang paling rentan. Bagi sebuah gerakan Islam Berkemajuan seperti Muhammadiyah, menyiapkan anak bangsa hanya untuk bergantung pada orang lain jelas tidak cukup. Tugas kita adalah membangun fondasi kemandirian sejati.
Resolusi Milad ke 113: Vokasi Pencipta Kemakmuran
Jawaban Muhammadiyah terhadap tantangan ini adalah dengan menjadikan School to Enterprise sebagai kado Milad yang paling progresif. Paradigma ini adalah perwujudan nyata dari tema Milad 113, yang mengintegrasikan nilai fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan) dengan etos ekonomi. Pendidikan vokasi tidak lagi dilihat sebagai ruang pelatihan teknis semata, melainkan sebagai laboratorium penciptaan kekayaan dan lapangan kerja.
Pergeseran mendasar ini dilaksanakan melalui tiga poros utama yang saling menguatkan:
- Kurikulum Pembentuk Creator Ekonomi: Kami tidak lagi sekadar mengajarkan hard skill, melainkan menanamkan kemampuan membaca pasar, merancang model bisnis inovatif, dan memanfaatkan teknologi digital untuk membuka peluang baru. Lulusan didorong untuk berpikir sebagai teknopreneur yang solutif, bukan sekadar operator.
- Mengubah Teaching Factory menjadi Amal Usaha Sejati: Ruang praktik siswa harus bertransformasi menjadi unit bisnis riil,teaching industry yang menghasilkan produk atau jasa yang kompetitif. Di bawah bimbingan persyarikatan, siswa mengelola risiko, pemasaran, hingga pembukuan. Inilah cara kita menanamkan mentalitas Al-Kasib Habibullah (Pekerja Keras/Pengusaha adalah Kekasih Allah), di mana berbisnis menjadi bagian dari ibadah dan pengembangan diri.
- Karakter Mandiri dan Pemberdayaan Umat: Vokasi berkemajuan harus diperkuat oleh nilai-nilai ke-Muhammadiyahan. Wirausaha yang dicetak harus memiliki integritas, profesionalitas, dan kepedulian sosial yang tinggi. Bisnis mereka diharapkan tidak hanya menyejahterakan diri sendiri, tetapi juga memberdayakan komunitas sekitar, mengubahnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif.
Menegaskan Komitmen Kebangsaan
Melalui implementasi School to Enterprise, Muhammadiyah secara efektif menggeser perannya dari penyedia solusi pengangguran menjadi arsitek kemandirian ekonomi nasional. Ribuan lulusan vokasi yang tumbuh menjadi wirausahawan baru berarti ribuan lapangan kerja baru, dan jutaan putaran roda ekonomi di tingkat akar rumput.
Inilah cara paling konkret bagi Muhammadiyah untuk menjawab panggilan Memajukan Kesejahteraan Bangsa di usia 113 tahun. Dengan mengubah mentalitas dari pencari kerja menjadi pencipta kemakmuran, kita memastikan bahwa generasi penerus bukan hanya mampu bertahan, tetapi menjadi subjek yang menentukan arah kemajuan ekonomi Indonesia. Ini adalah investasi jangka panjang, yang menegaskan bahwa amal usaha Muhammadiyah adalah kunci untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan berkemajuan membangun baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur di bumi pertiwi.
Penulis: Risky Akbar (SMK Muhammadiyah Kebomas Gresik)





