PSI.UMG – Ada sebuah kebenaran sederhana yang sering kita lupakan, kata-kata indah dalam konstitusi tidak akan pernah mengenyangkan perut yang lapar, tidak akan menyembuhkan anak yang sakit, dan tidak akan mencerahkan pikiran yang gelap karena minimnya pendidikan. Kesejahteraan umum yang diagungkan dalam pembukaan UUD 1945 bukanlah sekadar ornamen bahasa, melainkan kontrak sosial yang mengikat antara negara dan rakyatnya. Namun, di tengah carut-marut pemenuhan janji tersebut, ada satu organisasi yang diam-diam telah menulis sejarah dengan tinta emas pengabdian selama 113 tahun: Muhammadiyah. Ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di tahun1912, ia tidak hanya melahirkan organisasi, tetapi menggerakkan sebuah revolusi sunyi. Revolusi yang tidak berteriak di jalanan, tetapi berbicara melalui sekolah-sekolah yang dibangun, rumah sakit yang melayani dengan tulus, dan tangan-tangan yang terulur kepada yang lemah. Inilah kekuatan sejati dari sebuah gerakan: tidak menunggu izin negara untuk berbuat baik, tidak menanti anggaran pemerintah untuk mengubah kehidupan.
Lebih dari 9.000 sekolah Muhammadiyah tersebar dari Sabang sampai Merauke, bukan sekadar bangunan, tetapi benteng perlawanan terhadap kebodohan. Di sana, mimpi-mimpi besar lahir dari ruang kelas sederhana. Universitas Muhammadiyah di berbagai kota menjadi jembatan emas bagi ribuan pemuda yang nyaris putus asa, membuktikan bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi penghalang untuk meraih masa depan. Yang lebih memukau adalah bagaimana Muhammadiyah memahami kesejahteraan secara holistik. Bukan hanya soal perut kenyang, tetapi juga tubuh sehat, jiwa tenang, dan masa depan cerah. Ratusan rumah sakit PKU Muhammadiyah berdiri sebagai kuil kemanusiaan modern, tempat di mana setiap pasien diperlakukan sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar nomor antrian. Ketika pandemi COVID-19 membuat sistem kesehatan kita terhuyung, rumah sakit Muhammadiyah tetap berdiri tegak di garis depan, melayani tanpa memandang dompet yang dibawa pasien.
Ribuan anak yatim menemukan rumah kedua di panti asuhan Muhammadiyah. Bukan hanya mendapat makanan dan tempat tidur, tetapi yang lebih penting, mereka mendapat harapan. Mereka dididik, dibimbing, dan dibekali dengan keterampilan untuk tidak selamanya bergantung pada belas kasihan orang lain. Inilah sejatinya pemberdayaan mengubah objek menjadi subjek, mengubah penerima menjadi pemberi. Saat bencana menghantam negeri ini, ketika bumi berguncang, air laut mengamuk, atau gunung meletus, MDMC Muhammadiyah selalu hadir lebih cepat dari birokrasi pemerintah. Mereka tidak menunggu surat keputusan, tidak perlu rapat koordinasi yang berbelit. Yang mereka bawa adalah kepedulian murni dan kesiapan profesional. Di posko-posko pengungsian, dapur umum Muhammadiyah berasap mengepul, membagikan harapan dalam bentuk nasi hangat.
Namun, yang paling dalam adalah bagaimana Muhammadiyah tidak lantas menjadikan pengabdiannya sebagai alat politik atau pembenaran untuk melepaskan tanggung jawab negara. Sebaliknya, Muhammadiyah tegas mengingatkan bahwa kesejahteraan umum adalah kewajiban konstitusional negara yang tidak bisa didelegasikan atau diabaikan. Organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah hadir sebagai mitra, pelengkap, bukan pengganti negara. Pertanyaan kritis yang harus kita renungkan bersama jika sebuah organisasi kemasyarakatan dengan keterbatasan sumber dayanya mampu berbuat sebanyak ini, mengapa negara dengan APBN triliunan rupiah masih belum tuntas mewujudkan kesejahteraan umum? Masih adanya anak putus sekolah, ada rakyat yang meninggal karena tidak mampu berobat, mengapa kesenjangan justru makin melebar?
Milad ke-113 Muhammadiyah bukan sekadar perayaan, tetapi alarm moral bagi bangsa ini. Alarm yang mengingatkan kita bahwa kesejahteraan umum, bukan cita-cita yang mustahil. Ia adalah sesuatu yang sangat mungkin dicapai jika ada niat tulus, kerja keras tanpa henti, dan komitmen yang tidak tergoyahkan seperti yang ditunjukkan Muhammadiyah selama lebih dari seabad. Kita membutuhkan lebih banyak Muhammadiyah dalam berbagai bentuk dan wajah. Kita membutuhkan pemerintah yang bekerja dengan semangat pengabdian seperti KH Ahmad Dahlan, yang melihat rakyat bukan sebagai angka statistik tetapi sebagai manusia berdarah-daging dengan mimpi dan harapan. Kita membutuhkan kebijakan yang lahir dari empati, bukan sekadar kalkulasi politik.
Kesejahteraan umum adalah janji yang harus ditepati, bukan ditunda dengan dalih apapun. Dan Muhammadiyah telah membuktikan bahwa janji itu bisa diwujudkan, satu sekolah, satu rumah sakit, satu tangan terulur dalam satu waktu. Inilah legacy sejati bukan monumen megah, tetapi kehidupan yang berubah, harapan yang terus tumbuh, dan untuk semua masa depan yang semakin cerah.
By : Dr. Ir. Sari Marlina, S.Hut.,M.Si





