KARHUTLA DAN TANGGUNG JAWAB SEKOLAH: DARI PENGETAHUAN MENJADI KEPEDULIAN

Mochammad Nor Qomari: Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PDM Gresik | Guru SMP Muhammadiyah 12 KGB Gresik

Opini28 Dilihat

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan api dan asap. Di baliknya, ada persoalan lingkungan, kesehatan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kita bersama dalam menjaga bumi.

Peristiwa karhutla dan kemarau panjang seharusnya menjadi pengingat bagi dunia pendidikan bahwa mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan saja tidak cukup. Sekolah juga harus menumbuhkan kepedulian, membangun kebiasaan, dan memberikan teladan nyata.

Melalui tulisan opini “Karhutla dan Tanggung Jawab Sekolah: Dari Pengetahuan Menjadi Kepedulian”, saya mengajak kita merefleksikan tiga hal penting.

🌱 Pertama, menumbuhkan rasa ingin tahu.

Murid perlu dibiasakan bertanya, mencari data, memeriksa informasi, serta memahami penyebab dan dampak kerusakan lingkungan. Pendidikan harus membentuk generasi yang kritis, tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, dan mampu mengambil kesimpulan berdasarkan bukti.

🌱 Kedua, membangun kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

Menjaga lingkungan bukan hanya soal melestarikan pepohonan, tetapi juga melindungi kesehatan, kehidupan, dan masa depan sesama. Kerusakan lingkungan berdampak pada banyak pihak, termasuk anak-anak yang kegiatan belajarnya terganggu akibat asap dan masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan.

🌱 Ketiga, membiasakan tindakan nyata.

Pengetahuan tanpa tindakan hanya akan berhenti sebagai hafalan. Menghemat air, merawat tanaman, tidak membakar sampah, menjaga kebersihan, serta memeriksa kebenaran informasi merupakan langkah sederhana yang dapat membentuk karakter peduli lingkungan.

🏫 Lalu, apa peran sekolah?

Sekolah dapat mengembangkan gerakan Sekolah Tangguh Kemarau dan Peduli Lingkungan melalui penghematan air, pengelolaan sampah tanpa pembakaran, perawatan tanaman, pembentukan kader lingkungan, serta perlindungan murid ketika kualitas udara memburuk.

Guru dapat mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam berbagai mata pelajaran. Orang tua dan masyarakat juga perlu dilibatkan agar kebiasaan baik yang dibangun di sekolah dapat diteruskan di rumah dan lingkungan sekitar.

Bagi kita di lingkungan pendidikan Muhammadiyah, ikhtiar ini merupakan bagian dari tanggung jawab dalam menjalankan amanah sebagai manusia untuk merawat bumi.

Jangan sampai anak-anak kita pandai menjelaskan pentingnya menjaga lingkungan, tetapi belum terbiasa melakukannya.

Keberhasilan pendidikan lingkungan tidak cukup diukur dari seberapa banyak murid mengetahui kerusakan bumi, tetapi juga dari seberapa jauh pengetahuan itu mengubah sikap dan perilaku mereka.

Karena itu, mari membangun budaya bertanya sebelum menyimpulkan, peduli sebelum diminta, dan bertindak sebelum masalah membesar.

Bumi tidak hanya membutuhkan generasi yang tahu cara menjaganya. Bumi membutuhkan generasi yang benar-benar peduli dan bersedia bertindak.

Semoga tulisan ini menjadi bahan refleksi dan inspirasi bagi sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama memperkuat pendidikan lingkungan, dimulai dari kebiasaan sederhana di sekitar kita.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *