HUTAN KITA DIBAKAR, KITA TENGGELAM DAN HANYUT KEBAWA BANJIR

Nur Yakin, S.T, MPd., Divisi Inovasi Lingkungan Hidup Majelis Lingkungan Hidup PDM Gresik

Tak Berkategori53 Dilihat

PSI.UMG – Pembakaran Hutan dan Lahan dan banjir bukanlah dua bencana yang berbeda. Itu adalah satu rangkaiaan cerita, hanya beda episode. Episode satu: kita bakar. Episode dua: kita tenggelam.Setiap tahun polanya sama dan berulang seperti sinetron yang membosankan tapi mematikan. Bulan Agustus – Oktober, langit Sumatera dan Kalimantan merah, sekolah diliburkan karena asap. Empat bulan kemudian, Januari-Maret, berita yang sama berganti judul: Banjir bandang di Kalimantan Tengah, di Riau, di Sumsel. Air setinggi atap.
Kita pura-pura kaget, padahal sdh mengetahui sebab-akibat yang sangat sederhana.

1. Hutan Bukan Sekadar Pohon, Dia adalah Spons Raksasa

Satu hektar hutan gambut bisa menyimpan air hingga 9.000 meter kubik. Akar-akarnya seperti jaring yang menahan tanah, daunnya memecah air hujan agar tidak langsung menghantam tanah. Ketika hutan itu dibakar untuk membuka lahan (Hutan Tanaman Industri), yang hilang bukan hanya pohon. Yang hilang adalah sponsnya. Tanah gambut yang sudah kering karena kanal-kanal sengaja dibuat, begitu terbakar, menjadi hidrofobik – menolak air. Jadi ketika hujan besar datang, air tidak lagi meresap. Dia langsung lari. Lari ke sungai yang sudah dangkal karena penuh abu dan lumpur sisa kebakaran, lalu meluap kesegala arah.
Kita membakar hulu, tapi yang kebanjiran adalah hilir. Kita membakar di gunung, yang tenggelam adalah perkampungan di bawahnya.

2. Kemarau “Elnino” dikambing hitamkan

Selalu ada alasan: “El Nino”, “kemarau panjang”, “curah hujan ekstrem”. Padahal data KLHK jelas: 99% Karhutla di Indonesia disebabkan oleh ulah manusia, 60% lebih karena kesengajaan membuka lahan dengan cara membakar karena murah. Biaya buka lahan dengan bakar: Rp 500 ribu/hektar. Dengan alat berat: Rp 5 juta/hektar Banjir pun sama. Kita menyalahkan hujan, tapi lupa kita menimbun rawa untuk perumahan, menebang hutan lindung untuk kebun.

3. Apa yang Harus Diubah?

Berhenti memisahkan penanganan Karhutla dan banjir di dua meja rapat yang berbeda. Kedua, Sekat Kanal Gambut adalah Infrastruktur Anti-Banjir. Memblok kanal dan membasahi kembali gambut (rewetting) jauh lebih murah daripada membangun tanggul beton di kota setiap tahun.
Pada akhirnya, alam tidak pernah balas dendam. Alam hanya bekerja sesuai rumus. Kalau hutannya dibakar, airnya tidak punya rumah. Kalau air tidak punya rumah, dia akan mencari rumah kita. Kita tidak kekurangan air, kita kekurangan hutan untuk menyimpan air itu. Kita sebagai hamba yg durhaka, ketika kemarau spt ini segala cara dilakukan untuk minta hujan (tradisi mengawinkan kucing dll) dan setelah hujan turun air tdk dimanfaatkan sebaik baiknya (takut banjir dll) air disuruh secepatnya kembali ke laut.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *