“Bungah Melu Muhammadiyah” sebagai Makna Mendalam Milad ke-113

M. Islahuddin - Guru AIK Smamsatu Gresik

Opini876 Dilihat

PSI.UMG – Gambar bendera hijau Muhammadiyah yang berkibar di bawah langit cerah dan ketika mars Sang Surya (Anthem saktinya para warga Muhammadiyah) dikumandangkan dengan sangat indah, potongan lirik: warna yang hijau berseri membuatku rela hati, mengandung makna yang mendalam. Dalam bahasa gresik kita- kira seperti ini: “Melu Muhammadiyah kudu bungah, ojo nganti mekso, dipekso, opo maneh kepekso,” memuat pesan moral yang sederhana namun sangat filosofis. Pesan ini bukan sekadar ajakan emosional, tetapi merefleksikan inti keorganisasian modern: bahwa gerakan besar hanya dapat bertahan lebih dari satu abad apabila dijalankan dengan kegembiraan, kesadaran, dan keikhlasan. Pada momentum Milad Muhammadiyah ke-113, pesan ini patut direnungkan lebih jauh, bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai prinsip epistemologis dan praksis peradaban.

Muhammadiyah dan Spirit Kegembiraan yang Mencerahkan

Secara historis, Muhammadiyah lahir pada 1912 sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang mengusung rasionalitas, pemurnian akidah, dan praktik sosial yang progresif. Arah pembaruannya tidak pernah identik dengan paksaan, melainkan dengan penyadaran. Dalam perspektif sosiologi gerakan sosial, organisasi yang bertahan panjang adalah organisasi yang berhasil menumbuhkan voluntary engagement keterlibatan sukarela yang lahir dari pemahaman, bukan tekanan.

Kata bungah atau gembira dalam konteks gambar tersebut menegaskan nilai itu. Keikhlasan dan kegembiraan merupakan modal psikologis yang menjadikan kader Muhammadiyah tahan banting menghadapi perubahan zaman, termasuk disrupsi teknologi, dinamika politik, dan perubahan budaya generasi muda. Kader yang ikut dengan gembira akan lebih produktif, lebih kreatif, dan lebih tahan terhadap konflik internal.

Sebaliknya, kata mekso, dipekso, dan kepekso mencerminkan kondisi psikologis negatif: keterlibatan yang lahir dari tekanan sosial, dari formalitas, atau dari sekadar kepatuhan tanpa makna. Dalam kajian psikologi organisasi, keikutsertaan semacam ini hanya melahirkan loyalitas semu setia ketika diawasi, hilang saat tidak diperhatikan. Muhammadiyah jelas tidak dibangun dari kultur semacam ini.

Makna Keikhlasan dalam Gerakan Keilmuan Muhammadiyah

Logo matahari dalam bendera Muhammadiyah mengandung tafsir simbolik: cahaya yang memancar dari tauhid dan membawa pencerahan. Pencerahan tidak mungkin lahir dari paksaan, karena ilmu hanya dapat berkembang melalui kebebasan berpikir, kejujuran, dan suasana batin yang lapang. Inilah mengapa pesan dalam gambar tersebut selaras dengan hakikat gerakan Muhammadiyah: gerakan ilmu, bukan gerakan tekanan.

Di usia 113 tahun, Muhammadiyah telah membuktikan dirinya sebagai model organisasi modern yang mengedepankan rasionalitas, moderasi, dan integritas moral. Lebih dari 170 perguruan tinggi, ribuan sekolah, rumah sakit, dan layanan sosial berdiri bukan karena kader dipaksa, tetapi karena mereka bungah dalam berkhidmat merasa bahwa amal usaha adalah jalan ibadah dan kemanusiaan.

Perasaan bungah inilah yang, menurut teori self-determination, menjadi bahan bakar utama tumbuhnya motivasi intrinsik. Ketika individu merasa bahagia melakukan sesuatu, ia akan bekerja tanpa diminta, tanpa pamrih, dan bahkan tanpa batas. Ini pula yang menjelaskan mengapa amal usaha Muhammadiyah berkembang bahkan di daerah yang minim fasilitas: karena semangat kader tidak dipaksa oleh jabatan atau struktur, melainkan oleh keyakinan.

Refleksi Milad ke-113: Kembali pada Spirit Awal

Milad ke-113 bukan sekadar selebrasi keorganisasian, tetapi momen untuk melakukan muhasabah kolektif. Dalam usia sepanjang ini, setiap organisasi pasti menghadapi dinamika: konflik kepengurusan, perbedaan strategi dakwah, hingga tantangan regenerasi. Pada titik inilah pesan dalam foto tersebut menjadi sangat relevan: bahwa seluruh gerak Muhammadiyah harus kembali pada prinsip keikhlasan dan kegembiraan berjuang.

Kita perlu bertanya: apakah kader saat ini masih ikut dengan bungah? Ataukah mulai muncul kultur “mekso” ikut karena jabatan, ikut karena tradisi keluarga, atau ikut karena tekanan lingkungan? Pertanyaan ini penting karena keberlanjutan gerakan ditentukan oleh kesehatan psikologis para penggeraknya.

Jika Muhammadiyah ingin terus berumur panjang, maka ruang kaderisasi harus penuh dengan suasana menyenangkan, dialogis, dan mencerahkan. Anak-anak muda harus diberi ruang untuk berkreasi, bukan diarahkan dengan tekanan. Aktivitas dakwah harus memancarkan optimisme, bukan formalitas administratif. Dan setiap amal usaha harus memastikan prinsip: “berkemajuan dan menggembirakan.”

Muhammadiyah sebagai Gerakan Sosial yang Humanis

Gambar bendera yang berkibar di langit biru menunjukkan citra Muhammadiyah sebagai gerakan yang terus bergerak ke atas meraih kemajuan. Tetapi kemajuan tidak dapat dicapai dengan kultur kerja yang penuh keterpaksaan. Ilmu manajemen modern menegaskan bahwa organisasi yang berhasil adalah organisasi yang memanusiakan anggotanya.

Dalam konteks ini, pesan “ojo nganti mekso, dipekso, opo maneh kepekso” sesungguhnya adalah kritik halus terhadap praktik organisasi yang terlalu birokratis atau terlalu hierarkis. Muhammadiyah sejak awal didesain sebagai gerakan egaliter, bukan feodal. Setiap kader memiliki hak berpendapat, berkreasi, dan berkontribusi sesuai bakatnya.

Spirit humanis inilah yang menjadikan Muhammadiyah berbeda: ia tidak hanya mengajak manusia taat kepada Allah, tetapi juga memuliakan potensi manusia melalui ilmu, akhlak, dan pengabdian. Maka, kegembiraan adalah tanda bahwa seseorang sedang dimanusiakan dalam organisasi, bukan dieksploitasi.

Relevansi bagi Generasi Muda

Pesan pada gambar tersebut sangat dekat dengan psikologi generasi Z dan generasi alfa yang tumbuh dalam budaya kreatif dan otonom. Mereka tidak menyukai komando kaku, tetapi menyukai ruang kolaborasi. Ketika dilibatkan dengan bungah, mereka akan bekerja maksimal; tetapi ketika dipaksa, mereka akan menjauh.

Pada Milad ke-113, pesan ini menjadi peringatan: jika Muhammadiyah ingin tetap relevan, maka ia harus menjadi rumah yang menggembirakan, bukan sekadar struktur organisasi. Kegiatan harus lebih kreatif, dakwah harus lebih dialogis, dan kultur harus lebih inklusif.

Generasi muda tidak membutuhkan ruang untuk dipaksa, tetapi ruang untuk berkembang: “Bungah” sebagai Jalan Peradaban

Pada akhirnya, gambar tersebut bukan hanya tentang ajakan praktis, tetapi tentang tujuan peradaban. Muhammadiyah berdiri untuk memajukan, mencerdaskan, dan mencerahkan manusia. Dan semua itu hanya dapat dicapai melalui semangat yang tulus semangat bungah.

Milad ke-113 adalah pengingat bahwa kegembiraan adalah energi peradaban. Jika kader bergembira, amal usaha akan terus meluas. Jika kader ikhlas, dakwah akan terus menembus batas. Dan jika kader melangkah dengan bungah, Muhammadiyah akan selalu relevan, selalu berkemajuan, dan selalu menjadi matahari yang menerangi semesta.

Penulis: M. Islahuddin  (Guru AIK Smamsatu Gresik)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *