Pustakawan di Hari Buku

Mei Dwi Anisaroh - Staf Perpustakaan UMG

Opini287 Dilihat

PSI.UMG-Kalau mau jujur, buat kami yang sehari-hari “napas” di antara rak buku dan jurnal digital, Hari Buku itu rasanya seperti lebarannya pustakawan. Tapi kalau bicara soal literasi, tantangannya sekarang makin berat dan beda banget sama sepuluh atau dua puluh tahun lalu.

Dulu, literasi itu urusannya buta aksara. Sekarang? Masalahnya justru kebanyakan informasi. Mahasiswa sekarang tidak kekurangan bahan bacaan, malah sebaliknya, mereka lebih banyak kebanjiran informasi. Masalahnya adalah mereka sering bingung mana yang riset beneran, mana yang cuma opini, dan mana yang hoax hasil “gorengan” algoritma.

Literasi di mata kami sekarang adalah soal filter. Gimana caranya mahasiswa punya “insting” buat nanya: “Ini sumbernya dari mana? Siapa yang nulis? Ada kepentingannya nggak?” Kalau cuma bisa baca tanpa bisa menyaring, itu namanya bukan literasi, tapi cuma sekadar konsumsi.

Di lain sisi juga, terkadang masih banyak sekali perdebatan antara “Buku Fisik vs Digital”. Sering banget ada opini terkait “buku fisik bakal mati nggak? Atau sekedar buku fisik itu sudah jarang dipakai”, opini-opini jelas muncul dari banyaknya informasi atau koleksi dalam bentuk digital, dan tentunya dirasa lebih efisien dan tidak repot. Bagi kami pustakawan,keduanya tentunya merupakan alat yang perlu saling diimbangi. Digital menang di kecepatan dan akses, tapi buku fisik menang di koneksi emosional dan fokus.

Kami di perpustakaan Perguruan Tinggi sekarang lebih fokus gimana caranya dua-duanya bisa diakses dengan gampang. Mau baca e-book di kosan jam 2 pagi? Silakan. Mau nyium bau kertas sambil ngerjain skripsi di pojokan perpustakaan? Kami fasilitasi. Lantas, gimana kenyataan dilapangan terkait pemanfaatan pelayanan dan fasilitas perpustakaan ini? Kenyataannya, mahasiswa lebih sering mencari di Google lalu mengutip apa pun yang muncul di halaman pertama.

Soalnya bukan malas, namun tidak ada yang pernah benar-benar mengajari mereka cara menelusuri sumber, cara membedakan artikel ilmiah dengan artikel blog yang terlihat resmi, atau cara membaca abstrak untuk memutuskan apakah sebuah tulisan layak dibaca penuh. Keterampilan itu harusnya dibantu oleh pihak-pihak profesional dalam bidang informasi, yaitu pustakawan. Kami pusatakawan Perguruan Tinggi tentu membuka pintu saat ada mahasiswa yang membutuhkan bantuan terkait pencarian literatur yang resmi dan akurat. Di UMG sendiri, kami tentu berlangganan database internasional Proquest dan Gale, dalam rangka peningkatan literatur mahasiswa, dimana mahasiswa boleh dengan bebas mengakses dan mendownload artikel internasional untuk tugas mereka. Tentunya, kami siap membantu dan membuka layanan tanya pustakawan daring melalui lini masa kami.

Di Hari Buku ini (17 Mei 2026), tentunya bukan hanya untuk merayakan buku, tapi untuk jujur tentang kenapa membaca makin terasa berat di tengah segala yang berlomba menarik perhatian. Bukan berarti era digital adalah musuh buku. Justru sebaliknya, literasi digital dan literasi membaca itu dua hal berbeda yang sama-sama perlu dilatih. Bisa scroll cepat tidak otomatis berarti bisa memahami argumen panjang. Bisa searching tidak otomatis berarti bisa mengevaluasi sumber.

Mahasiswa yang datang ke perpustakaan dan bertanya cara mencari literatur bukan mahasiswa yang bodoh. Mereka mahasiswa yang jujur mengakui tidak tahu, dan itu justru titik awal yang bagus. Yang lebih mengkhawatirkan adalah yang merasa sudah cukup dengan apa yang bisa ditemukan di tiga menit pertama browsing

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *