Dialektika Puasa di Era Algoritma: Ruang Menggugat Kedaulatan Manusia atas Tirani Digital

Dr. Abdul Kholid Achmad, M.Pd. Kepala Bagian Sosial Humaniora UMG

PSI.UMG – Tak terasa dalam hitungan hari kita akan masuk pada bulan yang dinantikan oleh semua umat Islam. Bulan penuh rahmat dan ampunan, diturunkannya Al Qur’an dan memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan itulah Ramadhan. Dalam 12 bulan Ramadhan bukan hanya bulan yang dilalui oleh umat Islam seperti bulan lainnya, namun bulan ini sebagai jeda dari kesibukan era yang serba cepat.
Ramadhan senantiasa hadir sebagai interupsi suci di tengah hiruk-pikuk keduniawian. Namun, tahun ini, interupsi tersebut menghadapi lawan tanding yang lebih canggih dari sekadar rasa lapar dan dahaga yakni arsitektur digital yang dirancang menjerat kesadaran.
Kita sedang berada dalam sebuah fase sejarah di mana kedaulatan batin manusia tidak lagi hanya berhadapan dengan godaan fisik yang tampak, melainkan dengan algoritma yang bekerja secara tiranis di balik layar gawai kita.

Fakta Masyarakat Jejaring Indonesia
Berpijak pada realitas objektif, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 yang tertuang pada laman Kompas.id (6.08.2025) menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 80,66%, mencakup sekitar 229,4 juta jiwa. Secara fenomenologis, data ini mengonfirmasi transisi kita menuju masyarakat jejaring (network society) yang total. Namun, statistik ini menyimpan sisi gelap; laporan penggunaan media sosial kita mencapai rata-rata 8 jam 49 menit per minggu, menjadikannya salah satu yang tertinggi di dunia.

Kondisi ini menciptakan apa yang saya sebut sebagai “hiper-konektivitas yang mendistorsi spiritualitas”. Ruang digital kita tidak lagi menjadi alat bantu, melainkan menjadi habitat yang penuh dengan residu nafsu yang terdigitalkan. Fenomena judi online yang menjerat jutaan warga, eskalasi ujaran kebencian, hingga budaya flexing yang memicu penyakit hati (hasad), adalah manifestasi dari kegagalan kita mengelola impuls di ruang siber. Hingga awal 2025 saja, Kementerian Komunikasi dan Digital telah memblokir lebih dari 1,3 juta konten negatif (komdigi.go.id). Ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa tirani digital tengah mengeksploitasi titik terlemah dari struktur psikis manusia: yakni nafsu yang tidak teredukasi.

Dialektika Puasa: Antitesis terhadap Tirani Algoritma
Dalam perspektif dialektis, era digital saat ini merupakan Tesis dari kebebasan tanpa batas yang berakhir pada perbudakan perhatian (attention slavery). Algoritma media sosial dirancang secara neurosains untuk memicu dopamin secara instan, membuat manusia terjebak dalam siklus konsumsi tanpa henti. Di sinilah puasa hadir sebagai Antitesis.
Puasa bukan sekadar ritual eskatologis untuk meraih pahala di akhirat, melainkan sebuah instrumen kritis untuk merebut kembali kedaulatan manusia yang terampas. Jika algoritma bekerja dengan prinsip “pemuasan segera” (instant gratification), maka puasa bekerja dengan prinsip “penundaan pemuasan” (delayed gratification). Ini adalah benturan eksistensial antara mesin yang menginginkan kita terus mengonsumsi dan agama yang memerintahkan kita untuk berhenti sejenak.
Tanpa kemampuan untuk berhenti (aspek imsak), manusia hanya akan menjadi objek bagi algoritma demi kepentingan komoditas yang perhatiannya dijual demi keuntungan korporasi teknologi. Inilah esensi dari “Tirani Digital” yang harus kita gugat di bulan suci ini.

Kedaulatan Spiritual dan Literasi
Mengatasi tirani ini memerlukan solusi yang melampaui jargon moralitas belaka. Persinggungan teknologi dan pendidikan, menekankan bahwa problem utama manusia modern adalah “beban informasi” yang melumpuhkan daya kritis. Solusinya bisa berupa pembentukan kesadaran mutu atas setiap asupan mental dengan melakukan Literasi Spiritual-Digital. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan sebagai manifestasi kedaulatan diri adalah:
pertama; Dekonstruksi Kebiasaan (Digital Detox): Membangun kembali batas antara ruang privat dan ruang publik digital. Puasa harus dimaknai sebagai upaya mematikan notifikasi duniawi untuk menghidupkan notifikasi ukhrawi. kedua; Askese Informasi: Mengadopsi pola konsumsi informasi yang selektif (information diet). Di bulan Ramadhan, kita harus mampu melakukan kurasi ketat terhadap apa yang masuk ke dalam kognisi kita, menghindari noise yang menggerus ketenangan batin. ketiga; Substitusi Dopamin Digital ke Endorfin Spiritual: Mengalihkan kesenangan semu dari validitas sosial (seperti likes dan comments) menuju kedalaman makna melalui tadabbur dan kontemplasi (itikaf).

Meraih Kedaulatan di Balik Layar
Ramadhan adalah momentum emas untuk melakukan dekolonisasi terhadap pikiran kita yang telah dijajah oleh algoritma. Mengelola nafsu di era digital berarti berani berkata “tidak” pada tarikan layar demi berkata “ya” pada panggilan Tuhan. Kita harus mampu mendudukkan kembali teknologi sebagai pelayan bagi kemanusiaan, bukan penguasa atas jiwa. Semoga kita dapat menjalani puasa tahun ini sebagai proklamasi kemerdekaan diri dari tirani digital. Dengan mengendalikan jempol dan pandangan di ruang siber, kita sesungguhnya sedang membangun fondasi bagi peradaban yang lebih beradab dan berdaulat.

Semoga Allah memampukan kita untuk menjalani puasa dengan keikhlasan sehingga dapat memetik buah ramadhan dengan kembalinya fitra kita sebagai manusia yang merdeka.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *