PSI.UMG – Ada kalanya kesejahteraan bangsa dibayangkan sebagai hal besar: kebijakan pemerintah, program ekonomi, investasi raksasa, atau perubahan struktural. Padahal, jauh sebelum kita membicarakan hal-hal besar itu, bangsa ini berdiri karena jutaan hal kecil niat baik, kerja sunyi, dan kepedulian yang dilakukan tanpa sorotan kamera. Di antara gerakan-gerakan kecil itu, Muhammadiyah telah menjaga bara yang sudah menyala sejak 113 tahun lalu: bara untuk memajukan umat dan menyejahterakan seluruh manusia.
Sebagai bagian dari komunitas akademik Universitas Muhammadiyah Gresik, saya melihat dari dekat bahwa perjuangan itu tidak pernah berhenti. Setiap hari, kampus ini menjadi ruang di mana cita-cita Muhammadiyah tumbuh, tidak dengan gegap gempita, tetapi dengan keikhlasan yang pelan namun pasti. Ada dosen yang pulang larut karena memandu mahasiswa, ada tenaga kependidikan yang tetap ramah meski letih, ada mahasiswa yang bekerja sambil kuliah demi mempertahankan harapan. Di balik itu semua, ada satu keyakinan yang sama: pendidikan adalah jalan panjang menuju kesejahteraan yang hakiki.
Namun, kesejahteraan yang dimaksud Muhammadiyah bukan hanya soal ekonomi. Kesejahteraan yang dibangun adalah kesejahteraan akal, hati, dan martabat manusia. Itulah sebabnya Muhammadiyah terus hadir melalui sekolah, rumah sakit, kegiatan sosial, hingga ruang-ruang diskusi yang membuat masyarakat berpikir lebih jernih dan hidup dengan tujuan.
Di kampus, saya sering melihat mahasiswa dari berbagai latar belakang datang dengan membawa cerita masing-masing. Ada yang berasal dari keluarga sederhana, tetapi berusaha keras agar orang tuanya tidak kecewa. Ada yang bekerja sambil kuliah, tidur sebentar, lalu kembali ke ruang belajar dengan penuh tekad. Ada pula yang sempat ragu bisa menyelesaikan kuliah karena biaya, tetapi temukan jalan melalui beasiswa dan dukungan banyak pihak. Dari kisah-kisah inilah saya memahami: ketika Muhammadiyah berbicara tentang memajukan kesejahteraan bangsa, ia berbicara tentang manusia bukan angka.
Gerakan ini mengajarkan bahwa perubahan besar sering dimulai dari keberanian kecil. Keberanian untuk tetap berbuat baik meski tidak dilihat orang. Keberanian untuk mengulurkan tangan ketika orang lain menutup mata. Keberanian untuk terus memperbaiki diri meski menghadapi banyak kekurangan. Bagi saya, semangat itu bukan hanya slogan, tetapi benar-benar hidup di lingkungan kampus, di kelas, di organisasi mahasiswa, di pengabdian masyarakat, dan dalam interaksi sehari-hari.
Ada satu momen yang tidak akan saya lupa. Saat mengikuti kegiatan pengabdian, saya bertemu seorang ibu di desa pesisir. Dengan suara pelan ia berkata, “Terima kasih sudah datang. Kami merasa tidak sendirian.” Kalimat sederhana, tetapi mengena. Di sanalah saya sadar bahwa kesejahteraan bukan hanya hasil dari program-program besar, tetapi dari rasa didengarkan dan diperhatikan. Muhammadiyah, sejak dulu hingga sekarang, selalu berusaha menghadirkan rasa itu. Inilah bentuk nyata kepedulian yang mungkin tampak kecil, tetapi dampaknya jauh ke depan.
Di usia 113 tahun, Muhammadiyah telah melewati banyak fase bangsa: kolonialisme, kemerdekaan, modernisasi, hingga era digital seperti sekarang. Meski zaman berubah, nilai-nilai Muhammadiyah tetap sama: membangun manusia yang berpendidikan, berakhlak, mandiri, dan berkemajuan. Itulah pondasi yang menguatkan bangsa agar tidak mudah goyah.
Di tengah berbagai tantangan hari ini krisis moral, ketimpangan sosial, tekanan ekonomi gerakan ini tetap hadir sebagai penuntun. Muhammadiyah tidak hanya mengajak untuk melek ilmu, tetapi juga melek nurani. Tidak hanya mendorong masyarakat untuk maju, tetapi juga maju bersama, tanpa meninggalkan mereka yang tertinggal.
Bagi saya, bekerja dan belajar di lingkungan Muhammadiyah bukan sekadar menjalankan rutinitas, tetapi menjalani perjalanan spiritual: perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih peka terhadap penderitaan orang lain dan lebih bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Saya percaya, kesejahteraan bangsa bukan hanya tugas pemerintah, tetapi bagian dari tanggung jawab moral setiap warga. Muhammadiyah telah memberi contoh bagaimana kerja kecil, dilakukan bersama-sama, bisa menjadi kekuatan besar. Dari seorang guru yang sabar mengajar anak desa, hingga dosen yang menuntun mahasiswa meraih cita-cita, semuanya adalah bagian dari rantai panjang yang menguatkan Indonesia.
Di usia yang ke-113 ini, Muhammadiyah mengingatkan kita bahwa bangsa ini akan maju bukan hanya karena gedung-gedung tinggi, tetapi karena generasi muda yang berani bermimpi dan berakhlak. Bukan hanya karena angka pertumbuhan ekonomi, tetapi karena hati masyarakatnya semakin peduli.
Dan selama masih ada orang-orang yang dengan tulus bekerja tanpa menuntut balasan, selama masih ada ruang belajar yang dibuka untuk siapa pun, selama bara kecil kepedulian ini terus dijaga maka kesejahteraan bangsa bukan hanya mimpi. Ia sedang kita bangun, pelan-pelan, setiap hari.
By : Shella Mahdiyah





