PSI.UMG-Sebuah pintu tua barangkali hanya tampak sebagai bagian dari bangunan. Namun, di tangan sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), pintu dapat menjelma menjadi jalan untuk memasuki ingatan sebuah kota.
Melalui karya bertajuk “Bilik Masa Lalu di Ambang Pintu: Gema Regol”, Tim Inovasi Smart UMG atau TISU mencoba membaca kembali jejak sejarah dan kehidupan masyarakat yang tersimpan di balik pintu-pintu tua kawasan Kemasan, Gresik. Karya tersebut dipresentasikan kepada publik pada Sabtu (23/8/2026) dalam rangkaian Festival Menjadi Gresik yang digagas Yayasan Gang Sebelah.
Festival Menjadi Gresik sendiri menjadi salah satu ruang kebudayaan yang dalam beberapa hari terakhir mendapat perhatian berbagai kanal berita. Digelar di Kampung Kemasan, festival ini mempertemukan seni, sejarah, budaya, gastronomi, dan studi kultural sebagai cara untuk membaca kembali identitas Gresik. Sejumlah pemberitaan mencatat festival berlangsung pada 15–30 Agustus 2026 dan melibatkan warga, komunitas, akademisi, seniman, serta pelajar dan mahasiswa dalam proses pembacaan kota.
Di tengah keragaman cerita tentang kuliner, kampung, kesenian, dan sejarah tersebut, TISU memilih satu objek yang tampak sederhana, tetapi memiliki kedalaman makna: regol atau pintu.
Pilihan itu bukan hadir dalam sekejap.
Tim TISU mengikuti proses panjang melalui lima kali pertemuan yang difasilitasi Yayasan Gang Sebelah. Dalam rangkaian tersebut, para peserta mendapatkan pendampingan untuk menemukan, merasakan, menuliskan, mengimajinasikan, hingga mengabstraksikan temuan lapangan menjadi sebuah karya.
Proses itu sejalan dengan gagasan Besali Studi Kultural yang menjadi salah satu bagian dari ekosistem Festival Menjadi Gresik. Program tersebut sebelumnya dirancang sebagai ruang bagi peserta untuk menggali cerita warga dan mengolah hasil pengamatan menjadi pengetahuan yang kemudian disajikan kembali kepada publik melalui beragam medium.
Bagi TISU, penelitian budaya tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan data. Nama TISU, yang merupakan singkatan dari Tim Inovasi Smart UMG, justru dibangun dari sebuah filosofi sederhana. Tim yang dibentuk oleh Dr. Abdul Kholid Achmad, S.Hum., M.Pd., selaku Kepala Bagian Pusat Studi Sosial Humaniora, memaknai tisu sebagai benda yang memiliki kemampuan menyerap.
Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam cara kerja penelitian. Setiap anggota tim berupaya “menyerap” informasi dari aktivitas masyarakat, bentuk-bentuk fisik, cerita yang diwariskan, hingga ingatan kolektif yang melekat pada objek penelitian. Apa yang ditemukan di lapangan tidak semata-mata diperlakukan sebagai data, melainkan sebagai fragmen kehidupan yang perlu dirangkai kembali.
Dari proses penyerapan itulah lahir karya “Bilik Masa Lalu di Ambang Pintu: Gema Regol”.
Pintu menjadi medium untuk berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Ia adalah batas antara ruang luar dan ruang dalam, antara kehidupan yang terlihat dan cerita yang tersimpan. Pada bangunan-bangunan lama, pintu juga dapat menjadi saksi pergantian generasi, perubahan fungsi ruang, serta perjalanan sebuah kawasan.
Pendekatan tersebut menemukan relevansinya di Kampung Kemasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan bersejarah di Gresik. Melalui Festival Menjadi Gresik, berbagai objek keseharian dan pengalaman warga memang sengaja dibaca kembali sebagai bagian dari pengetahuan tentang kota. Festival ini tidak berupaya memberikan satu definisi tunggal mengenai Gresik, melainkan membuka berbagai kemungkinan untuk memahaminya melalui benda, makanan, kampung, ingatan, sejarah, dan praktik kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks itulah, karya TISU menjadi menarik. Sebab, pintu yang biasanya hanya dilewati tanpa banyak perhatian justru ditempatkan sebagai objek yang dapat “berbicara”.
Anggota TISU yang terlibat dalam proses tersebut adalah Ananda Rizqi Amelia, Evinda Arizqi, Mir’atus Sholikhah, Novi Dwi Fitria, Cindy Aulia Ananda, Fine Alya Zaki Darmawan, dan Elvaretta Aurellia Deafa.
Mereka menjalani proses pengamatan dan pengolahan temuan secara bertahap. Dari perjumpaan dengan objek, mereka belajar menangkap suasana, menghubungkan fakta dengan cerita, lalu menerjemahkannya ke dalam bentuk kreatif yang dapat dipahami publik.

Proses tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi para mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar membaca sejarah melalui buku atau ruang kuliah, tetapi berhadapan langsung dengan jejak-jejak sejarah yang hadir di tengah kehidupan masyarakat.
Ketika karya itu dipresentasikan pada 23 Agustus, respons publik menjadi bagian penting dari perjalanan TISU. Apresiasi datang dari beragam kalangan, mulai mahasiswa Universitas Airlangga, Cak dan Yuk Gresik, mahasiswa Universitas Internasional Semen Indonesia, mahasiswa USG, hingga masyarakat umum yang hadir di lokasi.
Perjumpaan itu memperlihatkan bahwa riset kebudayaan tidak harus berakhir sebagai dokumen akademik yang tersimpan di ruang kampus.
Hasil penelitian dapat dipertemukan dengan masyarakat. Temuan dapat diolah menjadi karya. Dan sebuah objek yang selama ini dianggap biasa dapat membuka percakapan baru tentang identitas sebuah kota.
Festival Menjadi Gresik sendiri dibangun melalui semangat yang menempatkan warga dan pengalaman keseharian sebagai sumber pengetahuan. Berbagai pemberitaan mengenai festival tersebut menekankan keterlibatan lintas komunitas dan institusi pendidikan dalam membaca Gresik dari beragam perspektif.
Di tengah kota yang terus bergerak oleh pembangunan, industri, dan perubahan sosial, upaya membaca kembali ingatan menjadi penting. Sebab, identitas kota tidak hanya dibentuk oleh bangunan baru atau angka-angka pertumbuhan, tetapi juga oleh cerita yang tersimpan pada ruang-ruang lama.
Melalui “Bilik Masa Lalu di Ambang Pintu: Gema Regol”, TISU seolah mengajak publik berhenti sejenak di depan sebuah pintu.
Bukan sekadar untuk membukanya, melainkan untuk bertanya: cerita apa yang pernah melewatinya, siapa yang pernah tinggal di baliknya, dan ingatan apa yang masih bertahan ketika zaman terus bergerak?
Dari sebuah pintu, para mahasiswa UMG menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu berada jauh di masa lalu. Kadang, ia masih berdiri di hadapan kita, diam di ambang rumah, menunggu seseorang untuk kembali membaca dan mendengarkan gemanya.






