Site icon Pusat Studi & Inovasi Universitas Muhammadiyah Gresik

Sekolah Ndeso Memadukan Epistemologi Lokal dan Etika Sosial

PSI-UMG. Dalam acara Anugrah apresiasi dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (5 Mei 2026), Afakhrul Masub Bakhtiar merepresentasikan sosok akademisi muda yang memaknai pendidikan sebagai praktik kebudayaan sekaligus kerja kemanusiaan. Sebagai dosen PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah Gresik, ia menempatkan ilmu tidak semata sebagai produk akademik, melainkan sebagai proses kesadaran, sebuah ikhtiar panjang untuk membentuk manusia yang utuh: berpengetahuan, berkarakter, dan berakar pada nilai hidupnya. Dalam pandangannya, sekolah tidak boleh tercerabut dari realitas sosial, dan pendidikan kehilangan maknanya ketika terlepas dari budaya yang melahirkannya.

Sejak tahun 2014, gagasan ini menjelma dalam Sekolah Ndeso, sebuah praksis pedagogis yang lahir dari kesadaran filosofis bahwa desa bukan wilayah kekurangan, melainkan ruang peradaban. Di sanalah pendidikan dikembalikan pada hakikatnya: belajar dari kehidupan. Tradisi, alam, dan relasi sosial diposisikan bukan sebagai latar, tetapi sebagai teks utama pembelajaran. Anak-anak diajak memahami dunia melalui pengalaman otentik, belajar tentang nilai, tanggung jawab, dan kebijaksanaan lokal sebagai fondasi berpikir global.

Secara filosofis, Sekolah Ndeso memadukan epistemologi lokal dan etika sosial dalam satu tarikan napas pendidikan. Pengetahuan tidak diturunkan secara linier, melainkan ditumbuhkan melalui dialog antara generasi, antara manusia dan lingkungannya. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan kepekaan nurani. Inilah pendidikan yang mendidik kesadaran ekologis, merawat solidaritas sosial, dan membangun karakter melalui pengalaman hidup yang nyata.

Dampak dari upaya tersebut melampaui ruang kelas. Ia menjelma gerakan sosial yang memperkuat kohesi masyarakat, menghidupkan kembali nilai gotong royong, serta membangun relasi manusia yang lebih beradab terhadap alam. Pendidikan, dalam laku ini, menjadi instrumen transformasi sosial, bukan dengan retorika, tetapi dengan keteladanan dan konsistensi praksis.

Atas dedikasi dan inovasi pendidikan berbasis budaya tersebut, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memberikan apresiasi. Pengakuan ini menegaskan bahwa jalan kebudayaan adalah jalan strategis masa depan pendidikan nasional. Namun bagi Afakhrul, apresiasi bukanlah puncak, melainkan peneguhan arah: bahwa tugas seorang pendidik adalah terus berjalan, menjaga nilai, dan merawat harapan.

Dalam keheningan kerjanya, Afakhrul Masub Bakhtiar menghadirkan pendidikan sebagai laku filosofis, mendalam, membumi, dan bermartabat. Ia menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukan tentang seberapa tinggi teori dibangun, tetapi seberapa dalam ia mengakar pada kehidupan dan memberi makna bagi sesama.

Penulis

Exit mobile version