PSI.UMG– Memasuki tahun ajaran baru 2026/2027, tantangan lembaga pendidikan tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga bagaimana membangun kepercayaan masyarakat melalui pelayanan yang konsisten. Hal tersebut disampaikan oleh Awang Setiawan Wicaksono, S.Psi., M.Psi., saat menjadi narasumber dalam Pembukaan Tahun Ajaran 2026/2027 yang diselenggarakan Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non Formal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas di Aula SMP Muhammadiyah 4 Kebomas, Kamis (9/7).
Mengangkat tema “Personal Branding Guru dan Tenaga Kependidikan”, Awang menegaskan bahwa personal branding sering kali dipahami secara keliru sebagai upaya membangun popularitas atau pencitraan individu. Padahal, dalam dunia pendidikan, personal branding adalah tentang membangun kepercayaan melalui perilaku profesional yang dilakukan secara konsisten.
“Personal branding bukan tentang bagaimana kita ingin terlihat hebat, tetapi bagaimana masyarakat merasakan manfaat dari kompetensi, integritas, dan pelayanan yang kita berikan setiap hari,” ujar Awang.
Menurutnya, masyarakat tidak memilih sekolah hanya berdasarkan slogan atau promosi. Keputusan orang tua lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman nyata ketika berinteraksi dengan sekolah, mulai dari cara satpam menyambut tamu, keramahan tenaga administrasi, komunikasi guru, hingga respons sekolah dalam menyelesaikan persoalan. Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi cerita di tengah masyarakat yang akhirnya membentuk reputasi lembaga pendidikan.
Awang menjelaskan bahwa di era digital, pengalaman pelayanan menjadi semakin penting karena informasi dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial maupun percakapan di komunitas masyarakat.
“Hari ini semua warga sekolah adalah frontliner. Guru, tenaga administrasi, pustakawan, operator, bahkan petugas keamanan sama-sama membawa nama baik sekolah. Reputasi sekolah dibangun oleh pengalaman layanan, bukan hanya prestasi akademik,” jelasnya.
Dalam paparannya, ia memperkenalkan lima pilar personal branding bagi guru dan tenaga kependidikan, yaitu kompetensi, integritas, komunikasi positif, kehadiran digital, dan kolaborasi dengan brand institusi. Kelima aspek tersebut dinilai menjadi fondasi dalam membangun sekolah yang dipercaya masyarakat.
Awang juga mengingatkan bahwa kualitas layanan pendidikan tidak cukup hanya benar secara prosedur. Pelayanan harus mampu memberikan rasa dihargai, dipahami, dan dibantu kepada setiap orang tua maupun peserta didik.
“Sekolah yang baik adalah sekolah yang membuat masyarakat merasa dilayani. Respons yang cepat, komunikasi yang santun, dan kepastian solusi sering kali lebih diingat daripada fasilitas yang megah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa karakter masyarakat Gresik yang dikenal religius sekaligus dinamis menuntut sekolah untuk mampu memadukan profesionalisme dengan nilai-nilai akhlak.
“Di Gresik, kepercayaan masyarakat lahir dari dua hal yang berjalan bersama, yaitu kompetensi dan keteladanan. Karena itu guru tidak cukup hanya pintar mengajar, tetapi juga harus menjadi teladan dalam komunikasi dan pelayanan,” tambahnya.
Melalui workshop yang diikuti kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan dari Amal Usaha Muhammadiyah di bawah PCM Kebomas tersebut, peserta tidak hanya menerima materi konseptual, tetapi juga diajak menyusun langkah-langkah praktis yang dapat langsung diterapkan dalam pelayanan sehari-hari. Mulai dari membangun komunikasi yang lebih responsif, memperbaiki standar pelayanan administrasi, hingga menjaga etika dalam penggunaan media sosial sebagai bagian dari citra profesional pendidik.
Menutup sesi, Awang mengajak seluruh peserta menjadikan tahun ajaran baru sebagai momentum memperbaiki kualitas pelayanan pendidikan.
“Brand sekolah tidak dibangun oleh baliho atau slogan, tetapi oleh perilaku kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Ketika setiap guru dan tenaga kependidikan berkomitmen memberikan pelayanan terbaik, maka kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya,” pungkasnya.

