Site icon Pusat Studi & Inovasi Universitas Muhammadiyah Gresik

MILAD KE-113 DAN PERTANYAAN YANG TAK BOLEH LAGI DIABAIKAN MUHAMMADIYAH

PSI.UMG – Ketika berbicara tentang kesejahteraan bangsa, kita sering terjebak pada perdebatan panjang di ruang rapat dan janji-janji program yang tak kunjung nyata. Namun jauh sebelum istilah reformasi birokrasi, pengentasan kemiskinan, atau pembangunan berkelanjutan menjadi slogan populer, Muhammadiyah telah bekerja dalam bingkai fastabiqul khairat membangun satu demi satu pilar kesejahteraan melalui amal usaha yang hidup. Kesejahteraan bagi Muhammadiyah bukan lagi menjadi konsep abstrak, melainkan tindakan konkret. Lembaga pendidikan dari
tingkat dasar hingga perguruan tinggi dibangun untuk membuka jalan mobilitas sosial jutaan anak bangsa. Rumah sakit dan klinik kesehatan hadir hingga ke daerah terpencil, menjadi oase bagi mereka yang sering terpinggirkan oleh pembangunan. Setiap amal usaha adalah bukti bahwa kesejahteraan merupakan hasil dari keberanian mengambil tanggung jawab moral.

Yang menjadikan Muhammadiyah berbeda adalah konsistensinya yang tidak pernah menunggu negara, tidak menunggu anggaran, apalagi menunggu panggilan kamera. Alih-alih menunggu itu semua Ia justru bergerak karena iman yang menuntut kepedulian, dan kemanusiaan yang menuntut aksi. Di tengah berbagai krisis sosial ketimpangan pendidikan, akses kesehatan, atau lemahnya literasi Muhammadiyah hadir sebagai pelaku, bukan hanya sebagai penonton.

Gerakan ini membuktikan bahwa kesejahteraan tidak hanya dibangun oleh kebijakan pemerintah, melainkan juga oleh partisipasi masyarakat sipil yang terorganisir, mandiri, dan visioner. Dengan ideologi Islam berkemajuan, Muhammadiyah menanamkan bahwa kemajuan bangsa harus menyentuh keadilan sosial, kemandirian ekonomi, dan martabat manusia.

Namun sayang seribu sayang, ‘Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di muhammadiyah’ kini kian menjadi slogan yang kaku. Sudah terlalu banyak yang menyatakan demikian, tapi kenyataannya apa? Muhammadiyahnya hidup akan tetapi para pengurusnya yang mati. Mari bersama-sama kita hitung Berapa banyak orang yang mengabdi sepenuh hati, tapi anak-anaknya tak diterima di sekolah Muhammadiyah? Berapa banyak kader militan yang tak dilirik karena bukan bagian dari lingkaran? Sementara pimpinan di pusat sibuk membentuk cabang dan ranting baru, ranting-ranting lama dibiarkan mati perlahan.

Di tengah segala kemajuan yang telah dicapai, kita juga perlu jujur melihat bahwa sebuah organisasi sebesar Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan amal usaha yang kuat, tetapi juga ekosistem kepengurusan yang sehat. Kemajuan tidak akan langgeng bila yang menggerakkan di dalamnya merasa lelah, tersisih, atau tidak diberi ruang untuk tumbuh. Kader-kader yang bekerja dalam diam yang membuka sekolah kecil, menghidupkan ranting, mengajar mengaji, atau mengabdi di pelosok merekalah tulang punggung yang sering terlupakan.

Justru di titik inilah ujian sebenarnya dimulai. Muhammadiyah sudah mampu membangun institusi megah, tetapi mampukah ia membangun kultur yang adil dan merangkul? Sudah banyak orang yang bekerja dengan ikhlas, tetapi mengapa sebagian di antaranya masih merasa tidak mendapat tempat? Jika keikhlasan selalu dituntut dari bawah, bukankah sudah saatnya keteladanan moral juga turun dari atas?

Kritik ini bukan untuk meruntuhkan, melainkan untuk mengingatkan bahwa kemajuan bangsa yang diusung Muhammadiyah hanya akan benar-benar tercapai bila ke dalam telah selesai dibereskan. Organisasi sebesar ini tidak boleh dibiarkan dikuasai oleh eksklusivitas, apalagi oleh lingkaran yang hanya memelihara kenyamanan kelompoknya sendiri. Muhammadiyah harus kembali menjadi rumah besar yang pintunya terbuka bagi siapa pun yang ingin berkhidmat, bukan hanya bagi mereka yang dikenal oleh pengurus tertentu.

Dan yang paling sering terlupakan adalah nasib ranting. Ranting yang dulu menjadi denyut nadi gerakan, tempat pengajian berlangsung sederhana, tempat para kader pertama kali belajar berorganisasi, kini banyak yang dibiarkan berjalan sendiri tanpa pendampingan. Ada ranting yang dulu hidup karena semangat warga, kini merapuh kehilangan arah karena tak pernah disapa. Ada pimpinan yang sibuk menambah jumlah cabang dan ranting baru demi laporan yang terlihat indah, sementara ranting lama tak pernah dikunjungi. Alih-alih memberikan penguatan bahkan menanyakan kabarpun sepertinya sudah enggan.

Muhammadiyah tidak boleh hanya jadi megafon politik atau simbol formalitas. Muhammadiyah seharusnya menjadi organisasi Islam yang progresif, membangun dan memelihara kader dengan kasih sayang, bukan meminggirkan mereka dengan standar-standar semu dan eksklusivitas yang kaku. Mari bersama-sama merawat Muhammadiyah dengan tetap menghidupkan ghirah Fastabiqul Khairat.

Sudah waktunya pimpinan di atas turun kembali ke bawah, meskipun hanya sekadar untuk mendengarkan. Mendengar keluhan ranting kecil yang kekurangan tenaga. Mendengar kegelisahan pengurus yang hampir menyerah. Mendengar harapan mereka yang ingin hidup, tetapi tidak punya cukup dukungan. Menguatkan ranting bukan hanya urusan administrasi itu adalah investasi jangka panjang bagi masa depan Muhammadiyah.

Tulisan ini saya buat dengan sejujur-jujurnya sebagai pemuda yang lahir dan tak ingin rumah besarnya tumbang diam-diam. Karena saya tahu, organisasi ini terlalu berharga untuk dibiarkan stagnan, dan terlalu agung untuk diisi oleh mereka yang merasa paling suci.

By : Muhamad Hafid Rizki Wahyudi,

Penulis

Exit mobile version