Site icon Pusat Studi & Inovasi Universitas Muhammadiyah Gresik

Menjadi Mubaligh Transformatif: Melampaui Teks, Menyapa Jiwa Jamaah

PSI.UMG-Setiap kali menghadiri salat Jumat di berbagai masjid, saya kerap melakukan refleksi kecil mengenai tipologi para khatib atau mubaligh saat berdiri di atas mimbar. Dari sekian banyak pengalaman, setidaknya ada empat model mubaligh yang menarik perhatian:

  1. Khatib Pemarah: Gemar mengungkap fenomena sosial yang dianggap menyimpang, lalu membahas dan menghakiminya seolah-olah seluruh jamaah yang hadir melakukan dosa tersebut.
  2. Khatib Penjaga Neraka: Fokus utamanya adalah menebar ancaman dan peringatan yang menakutkan.
  3. Khatib Penjaga Surga: Menjajakan ajaran agama dengan gambaran indahnya surga, namun sering kali lepas dari realitas bumi.
  4. Khatib Berpameran: Menjadikan mimbar sebagai panggung untuk memamerkan kedalaman ilmu dan reputasi pribadinya.

Secara umum, keempat model ini dapat dikategorikan sebagai mubaligh non-transformatif. Mereka terlalu fokus pada aspek teks, norma, sejarah, dan metode keislaman secara kaku, daripada membantu audiens bertransformasi dalam kehidupan nyata. Padahal, berislam adalah sebuah proses transformasi seumur hidup—sebuah ikhtiar tiada henti untuk menciptakan amal saleh dan terlibat aktif mewujudkan rahmatan lil ‘alamin.

Jebakan Egosentrisme dan Kegagalan Komunikasi

Banyak mubaligh hari ini gagal memahami situasi dan kebutuhan riil jamaah karena terjebak pada teks dan perspektif dirinya sendiri (self-centered). Dalam kacamata ilmu komunikasi, fenomena ini disebut sebagai kegagalan empati komunikatif (communicative empathy).

Perspektif Ahli Komunikasi:
Pakar komunikasi sering mengingatkan bahwa komunikasi yang efektif bukan sekadar transmisi data atau pesan (transmission model), melainkan proses berbagi makna (constitutive model). Ketika seorang mubaligh hanya fokus pada apa yang ingin dia katakan (berpusat pada teks atau ego diri) tanpa memedulikan kondisi psikologis, sosial, dan kultural pendengarnya, yang terjadi adalah kebisingan sosiologis (sociological noise). Pesan agama yang mulia justru memicu resistensi atau sekadar masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Secara teologis, kecenderungan mubaligh yang terlalu kaku dan abai pada realitas manusia ini juga dikritik tajam oleh para ulama terdalam kita.

Perspektif Ulama:
Imam Sufyan ats-Tsauri, seorang ulama besar salaf, pernah menegaskan sebuah kaidah penting: “Fikih itu adalah rukhshah (kemudahan/solusi) yang datang dari fakih (ahli) yang tepercaya. Adapun kalau sekadar bersikap keras (syadid), semua orang pun bisa melakukannya.”
Senada dengan itu, ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi dalam konsep Fiqh al-Waqi’ (Fikih Realitas) mengingatkan bahwa seorang juru dakwah tidak boleh hidup dalam menara gading teks semata. Jika mubaligh hanya memaksakan norma tanpa memahami realitas (waqi’) jamaah yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi, mental, maupun sosial, maka dakwah tersebut telah kehilangan substansi kasih sayangnya (rahmah).
KH Ahmad Dahlan, sebagaimana sering diriwatkan, sering mengingatkan prinsip menggembirakan dan memudahkan dalam ajakan berislam. Bassiru wala tunafiruu, yassiru wa tu’assiru (gembirakan dan jangan cerai beraikan, mudahkan dan janhan persulit)

Redefiniasi Peran Mubaligh

Untuk itu, kita perlu meluruskan kembali apa sebenarnya peran seorang juru dakwah di era modern ini. Kita harus berani menegaskan batasan-batasan ini:

Lalu, siapakah mubaligh itu? Mubaligh adalah fasilitator kehidupan, agen transformasi, dan sebuah pulau kecil koherensi (a small island of coherence) di tengah samudra dunia yang sedang kacau dan mengalami disorientasi.
Memperkuat Kompetensi Transformatif

Agar dakwah Islam kembali relevan dan menggerakkan, ada beberapa kompetensi krusial yang mendesak untuk diperkuat oleh para mubaligh kita:

Penutup: Dakwah dengan Kesadaran dan Cinta

Mubaligh sejati bukan sekadar corong yang mengalirkan teks atau norma secara mekanis. Di era digital dan disrupsi ini, para penyeru agama dituntut untuk terus memperkuat pemahaman dan kesadaran yang multidimensional: kesadaran sosial, spasial, digital, kesejarahan, dan puncaknya adalah spiritualitas.

Dari mimbar-mimbar yang sejuk, mari kita kembalikan esensi dakwah yang penuh kesadaran, dibungkus rasa kasih (rahmah), dan dialasi keikhlasan yang murni untuk melayani jamaah. Hanya dengan cara itulah, khutbah dan ceramah kita tidak lagi menjadi hakim yang menakutkan, melainkan penuntun yang merangkul dan mentransformasikan kehidupan umat menuju rida-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Jakarta, 2 Juni 2026

Penulis

Exit mobile version