Site icon Pusat Studi & Inovasi Universitas Muhammadiyah Gresik

Dari Sudut Kota Lama, Mahasiswa UMG Mengajak Akademisi Malaysia Melihat Gresik dengan Cara Berbeda

PSI.UMG-Sudut-sudut kota lama tidak selalu berbicara melalui bangunan megah atau catatan sejarah yang tersimpan rapi di perpustakaan. Kadang, cerita sebuah kota justru hidup kembali ketika generasi mudanya memilih berjalan, mengamati, bertanya, lalu mencoba memahami ruang yang selama ini mereka lalui.

Suasana itulah yang tampak dalam Festival Menjadi Gresik yang digelar Yayasan Gang Sebelah di kawasan Kemasan, Gresik, pada 17–30 Agustus 2026. Festival ini tidak sekadar menghadirkan pameran dan perjumpaan seni, tetapi juga membuka ruang untuk membaca kembali Gresik melalui sejarah, kebudayaan, ingatan, dan berbagai sudut pandang masyarakat yang hidup di dalamnya.

Salah satu perhatian dalam festival tersebut datang dari akademisi Universiti Sains Malaysia (USM), Profesor Sr. Dr. Mastura binti Jaafar. Guru besar yang memiliki bidang keahlian dalam manajemen strategis, manajemen proyek dan pengadaan, industri konstruksi, perumahan, pariwisata, serta kewirausahaan dan usaha kecil menengah itu berkesempatan mengunjungi sejumlah titik kegiatan dalam Festival Menjadi Gresik.

Di antara titik yang dikunjunginya adalah stan pameran yang diisi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG). Mahasiswa tersebut merupakan bagian dari tim yang dibentuk melalui Pusat Studi UMG untuk melakukan pembacaan dan pendalaman terhadap berbagai sudut Kota Lama Gresik.

Melalui proses tersebut, mahasiswa tidak hanya diajak melihat bangunan atau kawasan sebagai objek fisik. Mereka juga mencoba memahami cerita yang melekat pada ruang kota, perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu, serta jejak sosial dan budaya yang masih tersisa.

Prof Mastura mengapresiasi upaya mahasiswa UMG yang terlibat dalam proses pendalaman tersebut. Baginya, keterlibatan generasi muda dalam membaca kotanya sendiri menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan antara pembangunan dengan identitas lokal.

Kota, menurutnya, tidak hanya dapat dipahami sebagai ruang ekonomi atau kawasan yang terus berkembang secara fisik. Di dalamnya terdapat sejarah, ingatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga identitas yang membentuk karakter suatu daerah.

Kehadiran mahasiswa dalam Festival Menjadi Gresik, karena itu, menjadi menarik. Mereka tidak hanya datang sebagai pengunjung, tetapi ikut mengambil bagian dalam proses menginterpretasikan kembali kota yang mereka tinggali.

Pameran yang mereka tampilkan menjadi semacam jendela kecil untuk melihat Gresik dari sudut yang berbeda. Ada upaya untuk membawa kembali perhatian masyarakat kepada kawasan-kawasan lama yang selama ini mungkin hanya dilewati dalam rutinitas sehari-hari.

Kunjungan Prof Mastura pun tidak berhenti di stan mahasiswa UMG. Ia juga menyempatkan diri mengunjungi berbagai tim dan titik kegiatan lain yang menjadi bagian dari Festival Menjadi Gresik.

Langkahnya dari satu ruang ke ruang lain memperlihatkan keragaman cara masyarakat membaca Gresik. Festival tersebut mempertemukan berbagai kelompok dengan latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki perhatian yang sama terhadap kota dan cerita yang membentuknya.

Pada kesempatan yang sama, suasana Festival Menjadi Gresik juga diwarnai dengan presentasi publik. Sejumlah budayawan Gresik dan pemerhati kesenian hadir dalam forum tersebut untuk membedah salah satu buku yang mengangkat karya tentang Gresik.

Perbincangan mengenai buku itu menambah warna festival. Gresik tidak hanya dihadirkan melalui visual, dokumentasi, atau pameran, tetapi juga melalui pembacaan kritis atas karya dan pengetahuan yang telah ditulis tentang kota tersebut.

Pertemuan antara akademisi, mahasiswa, budayawan, seniman, dan masyarakat dalam satu ruang menjadi salah satu kekuatan Festival Menjadi Gresik. Setiap kelompok membawa cara pandangnya masing-masing, tetapi seluruhnya bertemu dalam satu pertanyaan yang sama: bagaimana sebuah kota dipahami oleh orang-orang yang hidup dan bertumbuh di dalamnya?

Bagi perguruan tinggi, ruang seperti ini juga membuka kemungkinan baru dalam proses pembelajaran. Pengetahuan tidak hanya diproduksi di ruang kelas atau laboratorium, tetapi dapat tumbuh melalui interaksi langsung dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Mahasiswa, misalnya, dapat belajar memahami perubahan sosial melalui lorong-lorong kampung, bangunan lama, aktivitas ekonomi warga, hingga cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kepala Pusat Studi UMG, Dr. Umaimah, S.E., M.Ak., CSRS, yang mendampingi kunjungan tersebut, melihat keterlibatan mahasiswa dalam festival sebagai bagian dari proses belajar untuk mendekatkan dunia akademik dengan realitas masyarakat.

Pendalaman terhadap sudut-sudut Kota Lama Gresik, menurutnya, bukan semata-mata kegiatan dokumentasi. Proses tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar melakukan pengamatan, membaca persoalan, serta memahami identitas lokal dari perspektif yang lebih dekat.

Dalam kunjungan tersebut, Prof Mastura didampingi Dr. Umaimah serta Elis dari staf protokoler Universitas Muhammadiyah Gresik.

Bagi Prof Mastura, kunjungan ke Festival Menjadi Gresik juga memperlihatkan bahwa pengembangan sebuah kota tidak dapat dilepaskan dari cara masyarakat merawat identitasnya. Perspektif pembangunan, pariwisata, kewirausahaan, dan pengelolaan kawasan, bidang-bidang yang selama ini menjadi perhatian akademiknya, dapat bertemu dengan kekayaan sejarah dan budaya lokal.

Di tengah perubahan kota yang berlangsung cepat, ruang-ruang seperti Festival Menjadi Gresik menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang baru. Terkadang, masa depan justru dapat dirancang dengan terlebih dahulu memahami apa yang telah dimiliki.

Dan di kawasan Kemasan, melalui pameran, diskusi, buku, karya seni, serta cerita tentang sudut-sudut kota, Gresik seakan sedang belajar melihat dirinya sendiri.

Di antara keramaian festival itu, mahasiswa UMG menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya mewarisi kota, tetapi juga berusaha membaca kembali cerita yang tersimpan di dalamnya.

Kunjungan seorang akademisi dari Malaysia kemudian memberi makna lain pada proses tersebut. Apa yang dilakukan mahasiswa dalam membaca Kota Lama Gresik ternyata tidak hanya relevan sebagai kegiatan lokal, melainkan juga dapat menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas tentang identitas kota, pembangunan, kebudayaan, dan masa depan.

Festival Menjadi Gresik pun tidak sekadar menjadi agenda peringatan kemerdekaan atau perhelatan budaya selama dua pekan. Lebih dari itu, festival tersebut menjadi ruang perjumpaan, tempat Gresik dipertanyakan, diceritakan kembali, dan dibayangkan untuk masa depan oleh orang-orang yang peduli pada kotanya.

 

Penulis

Exit mobile version